Just another free Blogger theme

Dalam sistem mekanisme penggerak mesin, hubungan antara cam (nok) dan roller/cam follower merupakan salah satu bagian yang bekerja dengan beban tinggi dan kontak berulang. Gerakan cam yang berputar diteruskan melalui roller untuk menghasilkan gerakan naik-turun atau gerakan mekanis tertentu pada komponen yang digerakkan.

Meskipun konstruksinya relatif sederhana, pasangan cam dan roller bekerja dalam kondisi yang cukup berat: beban kontak tinggi, kecepatan relatif tinggi, gesekan, temperatur, serta tuntutan pelumasan yang kontinu.

Kerusakan pada permukaan cam maupun roller tidak boleh dianggap sebagai keausan biasa. Jika dibiarkan, kerusakan dapat berkembang menjadi scuffing, scoring, pitting, spalling, bahkan menyebabkan roller macet atau pecah.





Pada kasus yang ditunjukkan pada foto diatas, terlihat kerusakan cukup berat pada permukaan roller/cam follower berupa area kasar, terkelupas dan mengalami kerusakan permukaan yang jelas berbeda dengan permukaan normal.

1. Kondisi Kerusakan

Pada komponen yang diperiksa terlihat beberapa kondisi:

  • Permukaan roller normal seharusnya memiliki finishing yang relatif halus dan seragam.
  • Salah satu roller menunjukkan kerusakan lokal pada permukaan kontak.
  • Area kerusakan tampak kasar dan tidak lagi memiliki permukaan machining yang normal.
  • Terlihat indikasi material permukaan mengalami pengelupasan atau penghancuran.
  • Pada bagian lain terlihat adanya goresan/jejak kontak.
  • Kerusakan bersifat lokal, sehingga perlu dicari penyebab mengapa beban atau temperatur terkonsentrasi pada area tersebut.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kontak antara roller dengan cam telah mengalami kondisi kerja yang tidak normal.

Secara visual, kerusakan dapat mengarah pada scuffing/galling yang berkembang menjadi surface fatigue atau spalling. Namun, identifikasi jenis kerusakan secara pasti tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan dimensi, kondisi bearing, hardness/material, pola kontak dan kondisi pelumas.

2. Bagaimana Kerusakan Ini Bisa Terjadi?

Pada kondisi normal, roller berputar mengikuti profil cam. Kontak antara kedua permukaan harus berlangsung dengan distribusi beban yang baik dan didukung oleh lapisan pelumas.

Ketika pelumasan tidak mencukupi, clearance berubah, roller tidak dapat berputar bebas, atau terdapat ketidaksejajaran, maka kondisi kontak berubah.

Area kontak menjadi semakin berat.

Akibatnya dapat terjadi:

beban kontak tinggi → film pelumas gagal → kontak metal-to-metal → temperatur meningkat → permukaan tergores/terkikis → material terkelupas → kerusakan semakin cepat.

Setelah permukaan mulai rusak, partikel logam hasil keausan juga dapat masuk ke dalam sistem pelumasan. Partikel tersebut kemudian berpotensi mempercepat keausan pada komponen lain.

3. Analisis Penyebab

Kerusakan seperti pada foto sebaiknya tidak langsung disimpulkan hanya karena "kurang oli". Ada beberapa kemungkinan yang harus diperiksa secara sistematis.

A. Pelumasan Tidak Mencukupi

Ini merupakan salah satu penyebab utama kerusakan permukaan cam dan roller.

Kemungkinan yang perlu diperiksa:

  • Tekanan atau debit oli pelumas tidak mencukupi.
  • Lubrication passage tersumbat.
  • Lubang oli menuju cam/roller tersumbat.
  • Nozzle atau jet pelumas tidak mengarah dengan benar.
  • Temperatur oli terlalu tinggi sehingga viskositas turun.
  • Grade oli tidak sesuai.
  • Oli mengalami kontaminasi.
  • Interval penggantian oli terlalu panjang.

Ketika oil film tidak mampu memisahkan kedua permukaan, terjadi kontak langsung antarlogam.

Kondisi ini dapat menghasilkan scuffing atau galling.

B. Roller Tidak Berputar Bebas

Roller harus dapat berputar dengan bebas pada pin atau bearing-nya.

Apabila bearing roller mengalami:

  • seizure,
  • kerusakan raceway,
  • kerusakan needle bearing,
  • clearance tidak sesuai,
  • kekurangan pelumasan,

roller dapat kehilangan kemampuan rolling-nya.

Akibatnya, gerakan yang seharusnya berupa rolling berubah menjadi kombinasi rolling dan sliding, atau bahkan terjadi sliding berat.

Inilah kondisi yang sangat berbahaya bagi permukaan cam dan roller.

C. Kerusakan Bearing atau Pin Roller

Pin tempat roller berputar juga harus diperiksa.

Pin yang aus, oval, bengkok atau mengalami kerusakan dapat menyebabkan posisi roller berubah terhadap cam.

Akibatnya beban tidak lagi terdistribusi secara merata.

Kontak dapat terkonsentrasi pada bagian tertentu dari roller sehingga muncul localized wear seperti yang terlihat pada foto.

D. Misalignment

Ketidaksejajaran antara roller dan cam juga harus diperiksa.

Misalignment dapat disebabkan oleh:

  • housing yang berubah posisi,
  • pin roller tidak lurus,
  • bearing mengalami keausan,
  • deformasi komponen,
  • kesalahan pemasangan,
  • keausan pada supporting mechanism.

Misalignment menyebabkan tekanan kontak tidak merata.

Jika salah satu sisi roller menerima beban lebih besar, kerusakan permukaan dapat berkembang jauh lebih cepat.

E. Beban Berlebihan

Cam dan roller dirancang berdasarkan beban tertentu.

Overload dapat meningkatkan contact stress secara signifikan.

Penyebabnya dapat berupa:

  • beban mekanis berlebihan,
  • setting sistem yang tidak sesuai,
  • perubahan kondisi operasi,
  • komponen yang digerakkan mengalami tahanan,
  • valve atau mekanisme terkait mengalami sticking,
  • timing atau adjustment tidak tepat.

Beban yang terlalu besar dapat menyebabkan surface fatigue, kemudian berkembang menjadi pitting dan spalling.

F. Kualitas atau Kondisi Material

Jika komponen pernah mengalami overheating, heat treatment tidak sesuai, atau material mengalami perubahan hardness, ketahanan permukaan terhadap beban kontak dapat menurun.

Oleh karena itu, pada kerusakan berat perlu dipertimbangkan pemeriksaan:

  • hardness,
  • material specification,
  • surface condition,
  • heat treatment,
  • kemungkinan thermal damage.

4. Mengapa Kerusakannya Hanya di Area Tertentu?

Ini merupakan bagian penting dalam troubleshooting.

Jika seluruh permukaan roller aus secara merata, kemungkinan penyebabnya adalah keausan umum akibat umur operasi.

Tetapi jika hanya terdapat satu bidang atau area tertentu yang rusak parah, kita harus mencurigai adanya kondisi abnormal.

Beberapa kemungkinan:

  1. Roller tidak berputar dengan normal.
  2. Ada benda asing atau partikel keras yang masuk ke area kontak.
  3. Terjadi misalignment.
  4. Beban terkonsentrasi pada area tertentu.
  5. Permukaan cam memiliki cacat.
  6. Terjadi loss of lubrication secara lokal.
  7. Roller pernah mengalami seizure.
  8. Terdapat kerusakan pada bearing atau pin.

Dengan kata lain, kerusakan lokal harus dicari penyebab lokalnya, bukan hanya mengganti roller.

5. Pemeriksaan yang Harus Dilakukan

Sebelum memasang roller baru, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalah telah selesai.

Lakukan pemeriksaan berikut.

Pemeriksaan Roller

Periksa:

  • diameter luar,
  • roundness,
  • taper,
  • permukaan kontak,
  • retak,
  • pitting,
  • spalling,
  • scoring,
  • tanda overheating,
  • kebebasan putaran roller.

Jika tersedia, lakukan pemeriksaan hardness dan crack detection sesuai prosedur maker.

Pemeriksaan Bearing

Periksa:

  • kondisi needle bearing/bushing,
  • clearance,
  • keausan,
  • discoloration akibat panas,
  • kerusakan raceway,
  • kondisi cage jika menggunakan roller bearing.

Pastikan roller dapat berputar bebas setelah dirakit.

Pemeriksaan Pin

Ukur:

  • diameter pin,
  • ovality,
  • taper,
  • surface condition,
  • straightness.

Pin yang aus dapat menyebabkan roller baru kembali mengalami kerusakan.

Pemeriksaan Cam

Jangan hanya mengganti roller.

Permukaan cam yang menjadi pasangan kontak juga harus diperiksa.

Perhatikan:

  • scoring,
  • pitting,
  • spalling,
  • crack,
  • perubahan warna akibat panas,
  • keausan profil cam,
  • permukaan yang tidak rata.

Jika cam sudah mengalami kerusakan, roller baru yang dipasang dapat kembali rusak dalam waktu singkat.

Pemeriksaan Sistem Pelumasan

Periksa:

  • tekanan oli,
  • flow/debit,
  • temperatur oli,
  • filter,
  • lubrication passage,
  • nozzle/jet,
  • arah penyemprotan oli,
  • kebersihan jalur oli.

Jika ditemukan partikel logam dalam oli atau filter, sumber partikel harus dicari.


Pesona big dolphin, 









ILR atau Inflatable Liferaft merupakan salah satu peralatan keselamatan jiwa yang sangat penting di atas kapal. Dalam kondisi normal, keberadaannya mungkin terlihat sederhana—sebuah container berbentuk tabung yang tersusun rapi di sepanjang sisi kapal.

ILR diatas kapal. (Foto: Dokumentasi penulis).


Foto di atas memperlihatkan deretan container inflatable liferaft yang ditempatkan di area terbuka kapal. Penempatan seperti ini bukan sekadar persoalan kerapian, tetapi harus mempertimbangkan akses, keamanan, kemampuan untuk dilepaskan, serta ketentuan keselamatan yang berlaku.

Inflatable Liferaft adalah rakit penolong yang dapat mengembang secara otomatis maupun dengan mekanisme yang telah dirancang untuk keadaan darurat.

Berbeda dengan lifeboat yang memiliki struktur kaku dan biasanya dilengkapi mesin, inflatable liferaft pada kondisi tersimpan memiliki bentuk yang sangat ringkas. Liferaft dilipat dan dikemas di dalam sebuah container.

Ketika diperlukan, liferaft akan dikeluarkan dari container dan mengembang sehingga menjadi sebuah rakit yang dapat digunakan oleh sejumlah orang sesuai kapasitas yang ditentukan.

Liferaft merupakan bagian dari life-saving appliances (LSA) yang diatur dalam SOLAS Chapter III dan International Life-Saving Appliance (LSA) Code. IMO menjelaskan bahwa SOLAS Chapter III mengatur berbagai persyaratan peralatan dan pengaturan keselamatan jiwa, termasuk lifeboat, rescue boat, liferaft, dan lifejacket.

Persyaratan teknis untuk container liferaft antara lain mencakup kemampuan menahan kondisi penggunaan di laut dan memiliki buoyancy yang cukup untuk membantu menarik painter serta mengoperasikan mekanisme inflasi apabila kapal tenggelam.

Apa yang Ada di Dalam Liferaft?
Meskipun dari luar hanya terlihat sebuah container, di dalamnya terdapat sebuah sistem keselamatan yang cukup kompleks.
Liferaft dilengkapi dengan berbagai perlengkapan survival yang diperlukan untuk membantu orang yang berada di dalamnya bertahan sampai mendapatkan pertolongan.

Perlengkapan tersebut dapat mencakup antara lain:
  • alat komunikasi dan/atau sarana pemberi tanda sesuai persyaratan;
  • pyrotechnics atau alat sinyal;
  • perlengkapan pertolongan pertama;
  • air minum dan perlengkapan survival;
  • makanan darurat;
  • alat perbaikan;
  • perlengkapan untuk mengambil air;
  • dayung atau perlengkapan penggerak yang dipersyaratkan;
  • lampu;
  • sea anchor;
  • perlengkapan keselamatan lainnya.
  • Isi dan konfigurasi perlengkapan bergantung pada tipe liferaft, kapasitas, jenis kapal, serta persyaratan yang berlaku.

Liferaft yang sudah bertahun-tahun berada di deck tetap membutuhkan pemeriksaan dan servicing sesuai persyaratan.
Yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Kondisi container
Periksa apakah terdapat:
kerusakan;
retak;
deformasi;
korosi pada bagian tertentu;
strap atau securing yang bermasalah;
marking yang tidak terbaca. 

2. Service date

Perhatikan tanggal atau informasi servicing.
Jangan menganggap liferaft aman hanya karena container masih terlihat bagus. 
3. Painter
Pastikan pengaturan painter sesuai dengan desain dan tidak mengalami kondisi yang dapat mengganggu operasinya.
4. Hydrostatic Release Unit
Jika menggunakan HRU, kondisi dan masa berlaku/service information harus diperhatikan.
5. Securing arrangement
Liferaft harus terpasang dengan benar pada tempat penyimpanannya. Securing yang terlalu longgar dapat menyebabkan masalah saat kapal mengalami gerakan berat.


Pada mesin diesel dua langkah (two-stroke marine diesel engine), perubahan arah putaran mesin dari ahead ke astern merupakan proses yang harus dilakukan dengan sangat presisi. Ketika arah putaran berubah, waktu penyemprotan bahan bakar (fuel injection timing) juga harus disesuaikan agar pembakaran tetap berlangsung pada saat yang tepat.

Beberapa pabrikan mesin menggunakan sistem Lost Motion, yaitu dengan menggeser posisi cam terhadap crankshaft. Namun, MAN B&W MC Series menggunakan pendekatan yang berbeda. Alih-alih memutar cam, sistem ini menggeser posisi roller cam follower ke sisi lain dari profil cam menggunakan aktuator pneumatik.

Metode ini dikenal sebagai Reversible Cam Follower atau Shifting Cam Follower.




Mengapa Diperlukan Pengaturan Timing Saat Reversing?

Pada mesin diesel dua langkah, pompa bahan bakar digerakkan oleh cam yang terpasang pada camshaft. Profil cam dirancang agar plunger pompa menekan bahan bakar pada saat piston mendekati Top Dead Centre (TDC).

Jika arah putaran mesin dibalik tanpa penyesuaian mekanisme, maka roller follower akan menyentuh sisi cam yang berbeda. Akibatnya:

  • langkah tekan (delivery stroke) berubah menjadi langkah hisap (suction stroke);
  • injeksi bahan bakar terjadi pada waktu yang salah atau bahkan tidak terjadi sama sekali;
  • mesin tidak dapat menghasilkan pembakaran yang benar.

Karena itu, diperlukan mekanisme untuk mengembalikan timing injeksi agar sesuai dengan arah putaran mesin.


Prinsip Kerja Reversible Cam Follower

Berbeda dengan sistem Lost Motion yang memutar posisi cam, pada mesin MAN B&W MC Series cam tetap berada pada posisinya. Yang dipindahkan adalah roller follower.

Perubahan posisi roller dilakukan oleh sebuah silinder pneumatik (air cylinder) yang dioperasikan oleh sistem kontrol mesin ketika menerima perintah reversing.

Dengan berpindahnya roller ke sisi lain profil cam, roller kembali mengikuti sisi naik (rising flank) cam yang sesuai untuk arah putaran baru. Akibatnya, plunger fuel pump kembali melakukan langkah tekan pada saat yang tepat sehingga injeksi bahan bakar berlangsung sesuai kebutuhan mesin.


Cara Kerja Sistem

1. Mesin Beroperasi Ahead

Pada kondisi normal:

  • crankshaft dan camshaft berputar sesuai arah ahead;
  • roller follower berada pada sisi cam untuk operasi ahead;
  • plunger fuel pump melakukan langkah tekan sesuai timing yang telah ditentukan;
  • injeksi bahan bakar terjadi beberapa derajat sebelum TDC.

2. Perintah Astern Diberikan

Ketika operator memilih mode astern:

  • sistem kontrol mengaktifkan silinder pneumatik;
  • udara bertekanan mendorong piston aktuator;
  • mekanisme penghubung menggeser roller follower secara lateral menuju sisi cam untuk operasi astern.

Pada tahap ini cam tidak diputar, hanya posisi roller yang berubah.


3. Mesin Berputar Astern

Setelah roller berada pada posisi baru:

  • roller kembali naik mengikuti profil cam yang sesuai;
  • plunger fuel pump kembali melakukan delivery stroke;
  • injeksi bahan bakar kembali terjadi sebelum piston mencapai TDC;
  • mesin dapat bekerja normal dalam arah putaran astern.

Silinder pneumatik berfungsi sebagai aktuator yang memindahkan roller follower dengan cepat dan akurat.

Keuntungan penggunaan aktuator pneumatik antara lain:

  • respons cepat saat reversing;
  • konstruksi sederhana;
  • gaya dorong cukup besar;
  • mudah diintegrasikan dengan sistem kontrol mesin.

Perpindahan roller dilakukan secara otomatis sehingga operator tidak perlu melakukan penyetelan secara manual.


Untuk memastikan roller benar-benar telah berpindah, mekanisme ini dilengkapi microswitch sebagai sensor posisi.

Sensor tersebut mengirimkan sinyal ke ruang kontrol bahwa roller telah berada pada posisi yang benar.

Apabila roller gagal berpindah, misalnya akibat korosi atau kemacetan mekanisme:

  • indikator peringatan akan menyala di ruang kontrol;
  • sistem tetap dapat menghidupkan mesin pada kondisi tertentu;
  • alarm temperatur gas buang biasanya akan muncul karena pembakaran menjadi tidak normal.

Dengan adanya sistem pemantauan ini, awak mesin dapat segera melakukan pemeriksaan sebelum kerusakan berkembang lebih lanjut.


Metode ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan mekanisme yang memutar cam, yaitu:

  • tidak memerlukan pemutaran camshaft terhadap crankshaft;
  • konstruksi cam lebih sederhana;
  • perpindahan timing berlangsung cepat;
  • keausan komponen relatif lebih rendah;
  • meningkatkan keandalan saat manuver kapal;
  • memudahkan proses perawatan.


Pada mesin diesel kapal berukuran besar (slow speed two-stroke marine diesel engine), perubahan arah putaran mesin merupakan hal yang umum dilakukan ketika kapal melakukan manuver, seperti saat sandar, lepas sandar, atau keadaan darurat. Agar mesin tetap bekerja dengan waktu penyemprotan bahan bakar (fuel injection timing) yang tepat ketika arah putaran berubah, diperlukan suatu mekanisme yang disebut Lost motion.

Lost motion merupakan salah satu mekanisme penting pada sistem bahan bakar mesin diesel dua langkah yang menggunakan camshaft. Tanpa sistem ini, mesin tidak akan mampu menghasilkan pembakaran yang benar ketika beroperasi dalam arah putaran berlawanan.

Lost motion adalah sudut perpindahan (angular displacement) cam bahan bakar terhadap poros engkol (crankshaft) yang dilakukan ketika mesin dibalik arah putarannya (ahead menjadi astern atau sebaliknya).

Perubahan posisi cam ini bertujuan untuk mengembalikan waktu injeksi bahan bakar agar tetap terjadi pada posisi piston yang benar, meskipun arah putaran mesin telah berubah.

Dengan kata lain, lost motion adalah proses menggeser posisi camshaft terhadap crankshaft tanpa mengubah posisi crankshaft itu sendiri.


Mengapa Lost Motion Diperlukan?

Pada mesin dua langkah, fuel pump digerakkan langsung oleh camshaft.

Saat mesin berputar normal (Ahead):

  • Cam berputar searah tertentu.
  • Roller follower naik mengikuti profil cam.
  • Plunger fuel pump menekan bahan bakar.
  • Injeksi terjadi beberapa derajat sebelum Top Dead Centre (TDC).

Semua proses tersebut telah disesuaikan dengan arah putaran mesin.

Namun ketika mesin dibalik arah putarannya:

  • Crankshaft berputar berlawanan arah.
  • Camshaft ikut berputar berlawanan.
  • Profil cam kini mengenai roller follower dari sisi yang berbeda.

Akibatnya, waktu injeksi berubah total.

Bahkan bisa terjadi bahwa ketika piston hampir mencapai TDC, plunger justru sedang melakukan langkah hisap (suction stroke), sehingga tidak terjadi injeksi sama sekali.

Oleh karena itu posisi cam harus dipindahkan. Inilah fungsi utama lost motion.

Cara Kerja Lost Motion

1. Mesin Berputar Ahead (Normal)

Pada kondisi normal:

  • Crankshaft berputar searah jarum jam (contoh).
  • Camshaft juga berputar searah.
  • Roller follower mulai naik pada sisi naik cam (cam rise).
  • Plunger fuel pump mulai menekan bahan bakar.
  • Injeksi dimulai sebelum piston mencapai TDC.

Posisi ini disebut timing injeksi normal.




2. Setelah Melewati TDC

Ketika piston baru melewati TDC:

  • Roller follower berada hampir di puncak cam.
  • Plunger telah selesai menekan bahan bakar.
  • Injeksi selesai.
  • Mesin menghasilkan tenaga.

Semua berlangsung sesuai urutan kerja mesin.

3. Mesin Dibalik Menjadi Astern

Ketika operator memberikan perintah:

Astern

Maka:

  • Mesin dihentikan.
  • Crankshaft akan berputar berlawanan arah.
  • Camshaft juga ikut berputar berlawanan.



Masalah muncul karena:

Cam kini menyentuh roller follower dari sisi yang salah.

Akibatnya:

  • Roller follower justru turun.
  • Plunger bergerak ke bawah.
  • Fuel pump melakukan suction stroke.

Padahal piston sudah mendekati TDC.

Artinya:

Tidak ada injeksi.

Mesin tidak mungkin hidup.

4. Lost Motion Bekerja

Agar timing kembali benar, sistem hydraulic servomotor memutar seluruh cam terhadap camshaft.

Cam dipindahkan beberapa derajat.




Sudut perpindahan inilah yang dinamakan:

Lost Motion Angle

Sesudah cam berpindah:

  • Roller kembali naik pada waktu yang tepat.
  • Fuel pump kembali melakukan delivery stroke.
  • Injeksi kembali terjadi sebelum TDC.
  • Mesin dapat hidup dalam arah astern.


Lost motion tidak mengubah bentuk cam.

Yang berubah hanyalah:

  • posisi sudut cam,
  • terhadap crankshaft.

Misalnya:

Semula injeksi dimulai pada:

15° BTDC

Setelah mesin dibalik:

cam diputar beberapa derajat sehingga kembali menghasilkan injeksi sekitar:

15° BTDC

walaupun arah putaran mesin berubah.


Komponen yang terlibat

Beberapa komponen utama dalam sistem lost motion antara lain:

  • Camshaft
  • Fuel pump cam
  • Cam follower (roller)
  • Fuel pump plunger
  • Hydraulic servomotor
  • Reversing mechanism
  • Engine control system

Semua komponen bekerja secara sinkron agar perubahan arah putaran berlangsung cepat dan aman.


Keuntungan sistem lost motion

Beberapa manfaat penggunaan lost motion antara lain:

  • Menjaga timing injeksi tetap akurat.
  • Memungkinkan mesin beroperasi maju maupun mundur.
  • Menjamin pembakaran tetap sempurna.
  • Mempermudah proses manuver kapal.
  • Mengurangi risiko gagal start saat reversing.
  • Meningkatkan keandalan sistem bahan bakar.
  • Mengurangi getaran akibat timing yang salah.

Apa yang Terjadi Jika
Lost Motion Bermasalah?

Gangguan pada sistem Lost Motion dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:

  • Mesin sulit start saat astern.
  • Injeksi bahan bakar terlambat atau terlalu awal.
  • Pembakaran tidak sempurna.
  • Asap hitam meningkat.
  • Tenaga mesin berkurang.
  • Konsumsi bahan bakar meningkat.
  • Mesin gagal melakukan reversing.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan kapal saat bermanuver, terutama ketika memasuki pelabuhan.

Pemeriksaan dan Perawatan

Untuk menjaga kinerja sistem lost motion, beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain:

  • Memeriksa kondisi hydraulic servomotor.
  • Memastikan pergerakan cam bebas dari hambatan.
  • Memeriksa keausan roller follower.
  • Memeriksa keausan profil cam.
  • Memastikan mekanisme reversing bekerja normal.
  • Memeriksa kebocoran sistem hidrolik.
  • Melakukan pengujian timing injeksi sesuai manual pabrikan.

Perawatan yang baik akan memastikan perubahan arah putaran mesin berlangsung cepat, aman, dan sesuai desain.

Crankcase Explosion Relief Valve merupakan salah satu perangkat keselamatan yang wajib dipasang pada mesin diesel berdaya menengah hingga besar, terutama pada main engine & generator engine di kapal. Komponen ini dirancang untuk melindungi crankcase dari kerusakan akibat ledakan internal (crankcase explosions) yang dapat terjadi karena penyalaan kabut minyak pelumas (oil mist). Oil mist detector. Klik disini.



Gambar di atas menunjukkan konstruksi penampang (cross section) dari sebuah Crankcase Explosion Relief Valve, lengkap dengan komponen-komponen penyusunnya.

Mengapa Crankcase Bisa Meledak?

Ledakan di dalam crankcase umumnya diawali oleh kondisi berikut:

  • Gesekan berlebihan pada bearing akibat pelumasan yang buruk.
  • Overheating pada komponen bergerak.
  • Terbentuknya kabut minyak pelumas (oil mist).
  • Munculnya titik panas (hot spot) yang menyulut kabut minyak.

Apabila tekanan meningkat secara tiba-tiba akibat pembakaran tersebut, crankcase dapat mengalami ledakan yang berpotensi merusak mesin dan membahayakan keselamatan awak kapal.


Fungsi Crankcase Explosion Relief Valve

Crankcase Explosion Relief Valve berfungsi untuk:

  • Melepaskan tekanan berlebih dari dalam crankcase.
  • Mencegah kerusakan struktur crankcase akibat ledakan.
  • Mengurangi risiko kebakaran lanjutan.
  • Melindungi personel di sekitar mesin dari semburan api dan tekanan.

Katup ini bekerja secara otomatis tanpa memerlukan sumber tenaga tambahan.

Komponen Utama

Berdasarkan gambar, komponen penyusun relief valve meliputi:

1. Cover
Melindungi bagian dalam katup dari benturan, debu, dan kotoran.

2. Spring Retaining Plate
Berfungsi sebagai dudukan dan penahan pegas agar tetap berada pada posisinya.

3. Spring
Menahan katup tetap tertutup selama tekanan crankcase masih dalam batas normal.

4. Valve
Katup utama yang akan terbuka ketika tekanan melebihi nilai yang telah ditentukan.

5. Valve Guide
Mengarahkan gerakan katup agar membuka dan menutup dengan stabil.

6. O-Ring
Berfungsi sebagai seal untuk mencegah kebocoran saat katup dalam kondisi tertutup.

7. Valve Carrier
Rumah katup yang menghubungkan seluruh komponen dengan dinding crankcase.

8. Gauze Assembly (Flame Trap)
Jaring logam halus yang berfungsi sebagai penahan api (flame arrester) sehingga nyala api dari dalam crankcase tidak keluar ke ruang mesin.

Prinsip Kerja

Dalam kondisi operasi normal, pegas menekan katup sehingga tetap tertutup rapat.

Ketika terjadi ledakan kecil di dalam crankcase, tekanan meningkat dengan sangat cepat. Tekanan tersebut mengatasi gaya pegas sehingga katup terbuka sesaat. Gas bertekanan keluar melalui gauze assembly, sementara nyala api didinginkan dan dipadamkan oleh jaring logam sehingga tidak menyebar ke ruang mesin.

Setelah tekanan kembali normal, pegas akan mengembalikan katup ke posisi tertutup secara otomatis.

Perawatan dan Pemeriksaan

Agar tetap berfungsi dengan baik, Crankcase Explosion Relief Valve perlu diperiksa secara berkala, meliputi:

  • Memastikan pegas masih memiliki gaya tekan sesuai spesifikasi.
  • Memeriksa kondisi O-ring dari kerusakan atau kebocoran.
  • Membersihkan gauze assembly dari kerak oli dan kotoran.
  • Memastikan katup dapat bergerak bebas tanpa macet.
  • Melakukan pemeriksaan sesuai jadwal perawatan yang direkomendasikan oleh pabrikan mesin.


Crankcase Explosion Relief Valve merupakan perangkat keselamatan yang sangat penting pada mesin diesel kapal. Meskipun jarang bekerja dalam kondisi normal, komponen ini menjadi perlindungan utama ketika terjadi ledakan di dalam crankcase. Oleh karena itu, pemeriksaan dan perawatan berkala wajib dilakukan agar katup selalu siap bekerja secara optimal saat dibutuhkan, sehingga keselamatan mesin, kapal, dan awak tetap terjaga.

Sistem kemudi merupakan salah satu peralatan vital di atas kapal. Kehilangan kemampuan mengendalikan arah kapal dapat menyebabkan tabrakan, kandas, maupun kecelakaan serius lainnya. Oleh karena itu, setiap kapal diwajibkan memiliki sistem kemudi darurat, yaitu sistem kemudi yang tetap mampu mengoperasikan kemudi apabila sistem utama mengalami kegagalan.

Instalasi pipa sistem kemudi. (Gambar: Engine simulator).


Gambar di atas menunjukkan skema sederhana Emergency Rudder Plant dengan dua unit pompa hidrolik dan dua kelompok silinder (cylinder group) yang dirancang untuk meningkatkan keandalan sistem kemudi.


Fungsi Komponen Utama

1. Oil Tank

Tangki oli berfungsi sebagai tempat penyimpanan oli hidrolik yang akan disirkulasikan ke seluruh sistem. Oli hidrolik berperan sebagai media penghantar tenaga dari pompa menuju silinder kemudi.

2. Hydraulic Pump 1 dan Hydraulic Pump 2

Dua pompa hidrolik dipasang secara independen sebagai bentuk redundansi. Dalam kondisi normal, salah satu pompa bekerja sedangkan pompa lainnya berada dalam kondisi siaga (stand-by). Apabila pompa utama gagal, pompa cadangan dapat segera dioperasikan sehingga sistem kemudi tetap berfungsi.

3. Cylinder Group 1 dan Cylinder Group 2

Kedua kelompok silinder hidrolik mengubah tekanan oli menjadi gerakan mekanis yang memutar rudder stock (poros kemudi). Penggunaan dua kelompok silinder membuat gaya kemudi lebih besar sekaligus meningkatkan keandalan sistem.

4. Rudder Shaft

Rudder shaft atau rudder stock merupakan poros yang menghubungkan aktuator hidrolik dengan daun kemudi (rudder). Putaran poros inilah yang menyebabkan kapal dapat berbelok ke kanan maupun ke kiri.

5. Automatic Valve

Katup otomatis mengatur jalur aliran oli hidrolik menuju silinder yang diperlukan. Pada kondisi darurat, katup ini membantu mengisolasi bagian sistem yang mengalami gangguan sehingga bagian lain masih dapat beroperasi.

6. Isolation Valve

Katup-katup bernomor 1 sampai 9 merupakan katup isolasi yang digunakan saat perawatan maupun ketika terjadi kerusakan pada salah satu bagian sistem. Dengan menutup katup tertentu, kebocoran dapat diisolasi sehingga sistem masih dapat dioperasikan menggunakan komponen yang masih baik.



Prinsip Kerja

Pompa hidrolik menghisap oli dari tangki kemudian menyalurkannya ke salah satu sisi silinder. Tekanan oli mendorong piston sehingga menghasilkan gerakan linier. Gerakan ini diteruskan ke rudder shaft sehingga daun kemudi berputar sesuai arah yang diinginkan.

Ketika arah kemudi dibalik, aliran oli juga dibalik sehingga piston bergerak ke arah sebaliknya dan rudder berputar ke sisi yang berlawanan.

Apabila salah satu pompa atau salah satu kelompok silinder mengalami kerusakan, operator dapat mengisolasi bagian tersebut melalui katup-katup yang tersedia dan mengoperasikan sistem menggunakan pompa maupun silinder yang masih berfungsi. Inilah prinsip utama dari Emergency Rudder Plant, yaitu mempertahankan kemampuan olah gerak kapal meskipun terjadi kegagalan pada sebagian sistem.


Keunggulan Sistem

  • Memiliki dua pompa hidrolik sebagai cadangan.
  • Dua kelompok silinder meningkatkan keandalan sistem.
  • Katup isolasi memungkinkan kerusakan dilokalisasi tanpa menghentikan seluruh sistem.
  • Tetap mampu mengendalikan kapal dalam kondisi darurat.
  • Memenuhi persyaratan keselamatan internasional mengenai sistem kemudi kapal.


Emergency Rudder Plant merupakan sistem pengaman yang sangat penting dalam instalasi kemudi kapal. Dengan konfigurasi pompa ganda, silinder ganda, dan katup isolasi, sistem ini memastikan kapal tetap dapat dikendalikan meskipun terjadi kegagalan pada salah satu komponen. Keandalan sistem kemudi darurat menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan pelayaran, melindungi awak kapal, muatan, serta lingkungan laut dari risiko kecelakaan akibat kehilangan kendali arah kapal.

Dalam operasional kapal modern, pengelolaan limbah cair merupakan salah satu aspek penting untuk menjaga kelestarian lingkungan laut dan memenuhi ketentuan internasional. Salah satu dokumen yang digunakan untuk mencatat pengelolaan limbah tersebut adalah Sewage & Graywater Discharge Record Book.

Sewage & graywater record book. (Gambar: Dokumentasi penulis)

Buku catatan ini berfungsi sebagai rekaman resmi seluruh aktivitas pembuangan (discharge), pemindahan (transfer), pengolahan (treatment), maupun penampungan limbah sewage dan graywater yang dihasilkan selama kapal beroperasi.

Sewage adalah limbah cair yang berasal dari fasilitas sanitasi kapal, seperti:

  • Toilet (water closet)
  • Urinoir
  • Ruang medis atau rumah sakit kapal
  • Saluran pembuangan yang terhubung dengan toilet

Limbah ini mengandung bahan organik, bakteri, virus, dan zat pencemar lainnya sehingga memerlukan pengolahan khusus sebelum dibuang ke laut.

Graywater adalah limbah cair yang berasal dari aktivitas domestik selain toilet, seperti:

  • Air bekas mandi
  • Air wastafel
  • Air cucian pakaian
  • Air cucian dapur (galley)
  • Air bekas pencucian akomodasi

Graywater umumnya memiliki tingkat pencemaran lebih rendah dibanding sewage, namun tetap dapat mengandung deterjen, minyak, lemak, dan bahan kimia lainnya.

Tujuan penggunaan Sewage & Graywater Discharge Record Book digunakan untuk:

  • Membuktikan kepatuhan kapal terhadap regulasi lingkungan.
  • Mendokumentasikan seluruh aktivitas pembuangan limbah cair.
  • Menjadi bukti saat pemeriksaan oleh Port State Control (PSC).
  • Memudahkan pelacakan apabila terjadi dugaan pencemaran laut.
  • Mendukung sistem manajemen lingkungan perusahaan pelayaran.

Sewage & Graywater Discharge Record Book disusun mengacu pada:

  • MARPOL Annex IV – Prevention of Pollution by Sewage from Ships.
  • Ketentuan tambahan dari negara pelabuhan (Port State).
  • Persyaratan perusahaan dan klasifikasi kapal.
  • Resolusi IMO yang berkaitan dengan pengelolaan limbah kapal.

Setiap kegiatan terkait sewage dan graywater biasanya dicatat dengan informasi berikut:

  • Tanggal: Waktu kegiatan dilakukan.
  • Posisi kapal: Latitude dan Longitude.
  • Jenis limbah: Sewage atau Graywater. Ini
  • Jumlah limbah: Volume yang dibuang atau dipindahkan.
  • Metode pengolahan: Melalui STP atau langsung ke holding tank.
  • Tujuan pembuangan: Laut atau fasilitas penerima di darat.
  • Nama petugas: Perwira yang bertanggung jawab.
  • Tanda tangan: Verifikasi pencatatan.

Kesalahan pencatatan dapat mengakibatkan:

  • Temuan saat inspeksi PSC.
  • Denda dari otoritas pelabuhan.
  • Penahanan kapal (detention).
  • Kerugian reputasi perusahaan.
  • Dugaan pelanggaran MARPOL.

Oleh karena itu setiap entri harus dibuat secara akurat, lengkap, dan segera setelah kegiatan dilakukan.

Beberapa peralatan yang berkaitan dengan pencatatan ini antara lain:

  1. Sewage Treatment Plant (STP). Peralatan untuk mengolah sewage sehingga memenuhi standar sebelum dibuang ke laut.
  2. Holding Tank. Tangki penampung sementara limbah sebelum diolah atau dibuang ke fasilitas penerima di pelabuhan.
  3. Discharge Pump. Pompa yang digunakan untuk memindahkan atau membuang limbah dari tangki.
  4. Overboard Valve. Katup pembuangan ke laut yang penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan MARPOL.


Tidak semua kapal diwajibkan memiliki Sewage & Graywater Discharge Record Book. Kewajiban ini biasanya bergantung pada regulasi negara bendera (Flag State), perusahaan, dan jenis operasi kapal.

Secara umum, kapal yang biasanya memiliki buku ini adalah:

1. Kapal Penumpang (Passenger Ships)

  • Kapal ferry.
  • Kapal pesiar (cruise ship).
  • Ro-Pax vessel.
  • Kapal penumpang menghasilkan sewage dan graywater dalam jumlah besar sehingga pencatatannya lebih ketat.
2. Kapal Berukuran Besar yang Memiliki Sewage Treatment System

  • Dilengkapi Sewage Treatment Plant (STP).
  • Memiliki holding tank sewage.
  • Memiliki sistem discharge ke laut.

3. Kapal yang Beroperasi di Wilayah dengan Persyaratan Lingkungan Khusus. Misalnya:

  • Alaska.
  • Great Lakes (Amerika Utara).
  • Beberapa kawasan Eropa.
  • Area sensitif lingkungan tertentu.


Gallery bulan Juni 2026






Dalam sistem permesinan kapal, penyambungan poros memegang peranan penting untuk memastikan tenaga dari mesin dapat diteruskan secara aman dan efisien. Salah satu metode modern yang banyak digunakan adalah OK Coupling, yaitu sistem kopling hidrolik yang memanfaatkan tekanan oli untuk pemasangan dan pelepasan coupling tanpa proses pemanasan berlebih maupun pemukulan mekanis.

Metode ini dikenal praktis, presisi, dan mampu mengurangi risiko kerusakan pada poros maupun sleeve coupling.




OK Coupling adalah jenis sambungan poros berbasis hydraulic interference fit. Sistem ini menggunakan tekanan oli untuk membentuk lapisan oli (oil film) di antara inner sleeve dan outer sleeve sehingga gesekan dapat dikurangi selama proses pemasangan.

Dengan metode ini, coupling dapat dipasang dengan sangat presisi serta menghasilkan ikatan yang kuat setelah tekanan dilepas.


Prinsip Kerja OK Coupling

1. Persiapan dan Penyambungan Sistem Hidrolik

Coupling dipasang pada poros. Selanjutnya:

  • Injektor tekanan tinggi dihubungkan ke jalur A
  • Pompa tekanan rendah dihubungkan ke ruang oli B

Pada tahap awal ini, sistem hidrolik dipersiapkan untuk membentuk lapisan oli di antara sleeve coupling.

2. Pembentukan Oil Film

Oli bertekanan tinggi dialirkan melalui jalur A.

Tekanan ini membentuk lapisan oli tipis antara:

  • Inner sleeve
  • Outer sleeve

Lapisan oli tersebut berfungsi untuk:

  • Menghilangkan kontak langsung logam dengan logam
  • Mengurangi gaya gesek
  • Mempermudah pergeseran sleeve saat pemasangan

Proses ini sangat penting untuk mencegah kerusakan permukaan akibat gesekan berlebih.

3. Pergerakan Outer Sleeve

Setelah oil film terbentuk sempurna, oli mulai ditekan ke ruang hidrolik B.

Akibat tekanan tersebut:

  • Outer sleeve bergerak ke arah taper
  • Coupling mulai mengencang pada poros

Selama proses ini, injeksi oli pada jalur A tetap dilakukan agar lapisan oli tetap terbentuk dan tidak terjadi metal contact.

4. Posisi Akhir Coupling

Ketika diameter coupling telah mencapai nilai pemasangan yang ditentukan, coupling dianggap berada pada posisi akhir.

Selanjutnya:

  • Tekanan pompa pada jalur A diturunkan
  • Tekanan di ruang B dipertahankan sementara

Tahap ini bertujuan memastikan posisi coupling tetap stabil sebelum penguncian akhir terjadi.

5. Penguncian Akhir

Saat tekanan pada jalur A turun:

  • Lapisan oli menghilang
  • Gesekan antara sleeve meningkat
  • Coupling mengikat poros dengan kuat

Setelah itu:

  • Tekanan di ruang B dilepas
  • Seluruh lubang injeksi ditutup plug

Pada kondisi ini, coupling sudah terkunci sempurna dan siap digunakan dalam operasi.

Keunggulan OK Coupling

Beberapa keuntungan penggunaan OK Coupling antara lain:

  • Pemasangan lebih presisi
  • Mengurangi kerusakan permukaan poros
  • Tidak memerlukan pemanasan ekstrem
  • Proses bongkar pasang lebih cepat
  • Distribusi gaya lebih merata
  • Cocok untuk sistem propulsi kapal modern

Megger tester adalah alat untuk mengukur tahanan isolasi (insulation resistance) pada kabel, motor listrik, generator, trafo, dan instalasi listrik. Nilai yang diukur biasanya dalam satuan Mega Ohm (MΩ).

Proses megger test instalasi panel starter. (Foto: Dokumentasi penulis).


Cara kerja megger tester: 

  1. Megger menghasilkan tegangan DC tinggi.
  2. Tegangan ini diberikan ke isolasi peralatan listrik.
  3. Alat mengukur seberapa besar arus bocor yang melewati isolasi.
  4. Dari arus bocor tersebut dihitung nilai tahanan isolasi.


Semakin baik isolasi, arus bocor semakin kecil dan hasil data ukur nilai Mega Ohm semakin besar. Sebaliknya jika isolasi lembab, retak, kotor, atau rusak arus bocor membesar dan ilai Mega Ohm turun.

Megger tester menggunakan tegangan DC tertentu tergantung objek yang diuji. Berikut tegangan yang umum dipakai:


Megger tester menggunakan tegangan DC bukan AC karena beberapa alasan berikut ini,
  • pengukuran isolasi lebih stabil
  • tidak dipengaruhi reaktansi induktif/kapasitif.
  • lebih mudah mendeteksi kebocoran isolasi sebenarnya.


Objek yang diujiTegangan Megger
Instalasi rumah 220V250V atau 500V DC
Motor listrik 440V500V DC
Panel dan kabel 440V500V DC
Motor/generator 3.3kV1000V DC
Sistem 6.6kV2500V–5000V DC
Trafo tegangan tinggi5kV–10kV DC

Penggunaan tegangan megger yang terlalu besar atau terlalu kecil bisa menyebabkan hasil pengukuran tidak akurat, bahkan merusak isolasi peralatan.
Jika tegangan Megger terlalu kecil,
Contoh: Motor 440V dites pakai Megger 100V
Efeknya, Kebocoran isolasi tidak terdeteksi. Isolasi yang mulai rusak kadang baru “tembus” saat diberi tegangan tinggi. Kalau test voltage terlalu rendah, hasil terlihat bagus padahal saat operasi normal bisa terjadi leakage atau short.
Ibaratnya: retakan kecil belum “terbuka”. Nilai Mega Ohm terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Karena tegangan rendah menghasilkan arus bocor kecil. Akibatnya, false good result peralatan dianggap aman padahal sebenarnya lemah

 

Jika tegangan Megger terlalu besar
Contoh: Kabel kontrol 24V dites pakai 5kV Megger
Efeknya lebih berbahaya dan isolasi bisa rusak. 
Tegangan DC tinggi dapat, menembus isolasi tipis, mempercepat breakdown, menyebabkan tracking karbon, merusak varnish winding.

Hal penting saat memakai megger tester,
  • Peralatan harus OFF dan tidak bertegangan.
  • Kapasitor harus dibuang muatannya.
  • Jangan menyentuh terminal saat testing.
  • Setelah test, lakukan discharge karena masih ada tegangan sisa.
  • Jangan gunakan megger pada perangkat elektronik sensitif seperti PLC tanpa prosedur khusus.