Just another free Blogger theme

Dalam dunia kelistrikan dan elektronika, kita mengenal dua jenis arus listrik utama: AC (Alternating Current) dan DC (Direct Current). AC adalah arus bolak-balik yang umum digunakan pada sistem tenaga listrik, termasuk di rumah dan industri. Sementara itu, DC adalah arus searah yang lebih sering kita temui pada baterai, sistem kontrol, dan perangkat elektronik.


PLC card yang dipakai diatas kapal. (Foto: Dokumentasi penulis)



Pertanyaannya, mengapa hampir semua sistem kontrol elektronik — mulai dari panel PLC, sensor, hingga sistem alarm mesin kapal — menggunakan DC, bukan AC?
Apakah ini sekadar kebiasaan industri, atau ada alasan teknis yang kuat di baliknya?

Beberapa alasan yang mendasari pertanyaan tersebut diatas adalah,
1. Tegangan DC lebih stabil untuk sistem kontrol.
Arus DC memiliki karakteristik tegangan yang konstan dan searah, sedangkan AC berubah-ubah polaritasnya sesuai dengan frekuensi listriknya. (Apabila 50Hz, berearti sebanyak 50 kali per detik. Demikian juga apabila frekuensi 60 Hz).
Dalam sistem kontrol elektronik, kestabilan sangat penting karena:
  • Sensor membaca perubahan kecil pada sinyal.
  • PLC memproses logika ON/OFF.
  • Modul kontrol membutuhkan referensi tegangan tetap.
Jika menggunakan AC, sinyal harus disearahkan dan distabilkan terlebih dahulu sebelum diproses. Hal ini membuat rangkaian lebih kompleks dan berisiko gangguan. Karena itu, DC lebih praktis dan andal untuk kontrol.

2. Komponen elektronik bekerja dengan DC.
Semua komponen elektronik modern seperti:
  • Transistor
  • IC (Integrated Circuit)
  • Mikrokontroler
  • PLC
  • Modul sensor
Bahkan perangkat yang menerima suplai AC tetap akan mengubahnya menjadi DC melalui power supply internal sebelum digunakan oleh rangkaian elektroniknya.

3. Lebih mudah digunakan untuk sistem logika.
Sistem kontrol bekerja berdasarkan logika sederhana:
0 Volt = OFF
24 Volt DC = ON
Sinyal digital membutuhkan level tegangan yang jelas dan tetap. Jika menggunakan AC yang nilainya terus berubah dari positif ke negatif, sistem logika akan sulit membedakan kondisi ON dan OFF secara presisi.
Karena itu, dalam sistem industri dan kapal, standar kontrol yang umum digunakan adalah 24 Volt DC.

4. Lebih aman untuk tegangan rendah.
Sistem kontrol biasanya bekerja pada:
5V DC
12V DC
24V DC
Tegangan rendah DC relatif lebih aman terhadap risiko sengatan dan lebih kecil kemungkinan menimbulkan percikan listrik dibanding AC dengan level yang sama.
Dalam dunia permesinan kapal, sistem alarm, proteksi, dan kontrol mesin hampir selalu menggunakan 24V DC demi keselamatan dan keandalan.

5. Mengurangi gangguan (noise) dan interferensi
AC lebih mudah menimbulkan gangguan elektromagnetik (EMI), terutama jika berada dekat dengan kabel daya motor atau beban besar.
Gangguan ini dapat menyebabkan:
  • Sensor salah baca.
  • PLC error.
  • Sistem trip tanpa sebab jelas.


DC bukan dipilih secara kebetulan, tetapi karena:
✔ Tegangannya stabil.
✔ Cocok untuk sistem logika elektronik.
✔ Lebih aman untuk kontrol tegangan rendah.
✔ Minim gangguan.
✔ Sesuai dengan karakter komponen elektronik.
Sementara AC unggul untuk distribusi dan beban daya besar, DC adalah pilihan terbaik untuk otak sistem kontrol dan elektronika.

NEW RELEASE dan tersedia di beberapa marketplace nasional.


GUEPEDIA, KLIK DISINI.


Buku “Teori, Operasional, dan Perawatan Permesinan Bantu Kapal” menghadirkan panduan teknis yang praktis dan terpercaya bagi siapa pun yang ingin menguasai sistem penunjang vital di atas kapal. Dirancang dengan pendekatan aplikatif dan berbasis standar industri maritim, buku ini menguraikan secara rinci prinsip kerja, desain, karakteristik operasional, serta strategi perawatan berbagai permesinan bantu yang menentukan keandalan dan efisiensi operasi kapal modern.


Di dalamnya, pembaca akan menemukan pembahasan teknis mendalam mengenai sistem kelistrikan kapal, generator, pompa dan hidraulik, kompresor starting air, sistem pendingin, sistem pelumasan, boiler dan economizer, oil purifier & separator, hingga auxiliary engine dan peralatan penunjang kritis lainnya. Setiap bab disusun untuk menjawab kebutuhan praktis di ruang mesin, termasuk analisis fault-finding, parameter operasi yang harus dimonitor, serta langkah-langkah preventif untuk mencegah downtime dan kegagalan peralatan.

Disertai diagram teknis, contoh operasional, serta skenario troubleshooting nyata di kapal, buku ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang bagaimana merancang, mengoperasikan, dan merawat permesinan bantu secara aman, efisien, dan sesuai regulasi internasional.

Sebagai referensi wajib bagi taruna pelayaran, marine engineer, teknisi perkapalan, surveyor, hingga praktisi industri maritim, buku ini bukan hanya memperkaya wawasan teknis, tetapi juga membekali pembaca dengan kompetensi profesional yang krusial untuk menghadapi tantangan operasional kapal masa kini. 

Keselamatan kapal tidak hanya bergantung pada kecanggihan mesin dan navigasi, tetapi juga pada kesiapan sistem daruratnya. Salah satu komponen penting yang sering luput dari perhatian adalah International Shore Connection (ISC) — sambungan darurat yang memungkinkan suplai air pemadam dari darat masuk ke sistem pemadam kebakaran kapal.

ISC yang ada dikapal. (Gambar: Dokumentasi penulis).


Dalam situasi tertentu, komponen ini dapat menjadi “jalur penyelamat” ketika fire pump kapal tidak dapat beroperasi.


International Shore Connection (ISC) adalah sambungan standar internasional yang memungkinkan kapal menerima suplai air pemadam kebakaran dari darat melalui sistem hydrant pelabuhan.

Kewajiban penyediaan ISC di kapal diatur oleh International Maritime Organization melalui konvensi SOLAS (Safety of Life at Sea).

Setiap kapal niaga wajib memiliki satu set ISC lengkap dengan:

  • Flange standar internasional.
  • Gasket.
  • Baut dan mur.
  • Blind flange (penutup).
  • Lokasi penyimpanan yang mudah dijangkau.

Dalam kondisi normal, sistem pemadam kebakaran kapal mendapatkan tekanan air dari:

  • Main fire pump.
  • Emergency fire pump.
  • Jockey pump (jika tersedia).

Namun, dalam kondisi darurat seperti:

  • Blackout total.
  • Kegagalan pompa utama.
  • Kebakaran di ruang mesin.
  • Kapal dalam perbaikan (dock).

Sistem pemadam dikapak tidak bisa difungsikan. Pada saat inilah shore connection menjadi satu-satunya sumber suplai air eksternal.

Cara Kerja Shore Connection

  • Selang dari hydrant darat dihubungkan ke flange ISC kapal.
  • Valve shore connection dibuka.
  • Air bertekanan dari pompa pemadam darat masuk ke fire main kapal.
  • Sistem hydrant kapal kembali berfungsi.

Standarisasi Dimensi ISC

ISC memiliki ukuran flange standar internasional agar dapat digunakan di pelabuhan mana pun di dunia. Standar ini dibuat untuk memastikan kompatibilitas global tanpa perlu adaptor tambahan.

Kesalahan tentang ISC yng sering menjadi temuan saat audit diantaranya adalah,

  • Baut ISC tidak lengkap
  • Gasket hilang atau rusak
  • Flange berkarat
  • Akses terhalang muatan atau peralatan
  • Awak kapal tidak memahami prosedur penggunaannya

Marine Growth Prevention System (MGPS) merupakan sistem penting pada kapal yang berfungsi mencegah pertumbuhan organisme laut seperti kerang, teritip, dan lumut di dalam sistem air laut. Sistem ini bekerja dengan prinsip elektrolisis untuk menghasilkan ion logam yang bersifat anti-fouling.

MGPS dengan "lumpur putih" dalam permukaan sell elektroda-nya. (Gambar: Dokumentasi penulis).


Dalam praktik operasional, sering ditemukan endapan berwarna putih menyerupai lumpur di sekitar elektroda MGPS atau di dalam sea chest. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan: apakah endapan tersebut normal, apa penyebabnya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja sistem. Artikel ini membahas fenomena tersebut secara teknis dan sistematis.

Prinsip Kerja Singkat MGPS
MGPS bekerja dengan mengalirkan arus listrik searah (DC) ke elektroda yang terpasang pada sea chest. Proses ini menghasilkan:
  • Ion tembaga (Cu⁺) atau besi (Fe²⁺) sebagai zat anti-marine growth.
  • Reaksi elektrokimia pada air laut di sekitar elektroda. Reaksi ini tidak hanya menghasilkan ion logam, tetapi juga memicu perubahan sifat kimia air laut secara lokal.

Karakteristik Endapan Lumpur Putih
Endapan putih yang ditemukan pada MGPS umumnya berupa: 
  • Pasta atau kerak putih keabu-abuan.
  • Menempel di permukaan elektroda atau dudukannya.
  • Kadang bercampur dengan serpihan logam.
  • Secara kimia, endapan tersebut umumnya terdiri dari Kalsium karbonat (CaCO₃) dan Magnesium hidroksida (Mg(OH)₂) yang merupakan hasil pengendapan mineral air laut akibat perubahan pH.

Penyebab Terbentuknya Lumpur Putih
  • Reaksi Elektrolisis Air Laut. Arus listrik pada MGPS menyebabkan peningkatan pH di sekitar elektroda (lingkungan menjadi alkalis). Kondisi ini memicu pengendapan mineral terlarut yaitu Ion kalsium membentuk kalsium karbonat dan Ion magnesium membentuk magnesium hidroksida.
  • Arus MGPS Terlalu Besar. Setting arus yang melebihi rekomendasi pabrikan dapat mempercepat:
  • Reaksi elektrokimia.
    Pembentukan endapan.
    Penutupan permukaan elektroda oleh kerak.
  • Aliran Air Laut yang Tidak Optimal. Aliran air laut yang lemah atau stagnan, misalnya saat kapal lama sandar atau sea chest kotor, menyebabkan:
Endapan tidak terbilas.
Akumulasi lumpur putih di sekitar elektroda.
  • Degradasi Material Elektroda. Seiring waktu, elektroda MGPS akan mengalami keausan. Produk korosi mikro dari elektroda dapat bercampur dengan endapan mineral dan membentuk lumpur yang lebih padat.

Dampak Terhadap Operasional Kapal
  • Penurunan Efektivitas MGPS. Endapan menutupi permukaan aktif elektroda sehingga pelepasan ion anti-fouling menjadi tidak optimal. Akibatnya, marine growth tetap dapat berkembang di sistem air laut.
  • Ketidakstabilan Arus Listrik. Kerak pada elektroda meningkatkan tahanan listrik, yang dapat menyebabkan: 
Arus tidak stabil.
Alarm overcurrent atau undercurrent.
Gangguan pada control unit MGPS.

  • Potensi Korosi Lokal.L ingkungan alkalis akibat endapan dapat memicu korosi pada:
Dudukan elektroda.
Baut dan mur.
Dinding sea chest.
  • Risiko Penyumbatan Sistem Pendingin. Jika endapan terbawa aliran air laut, dapat mempercepat pengotoran strainer dan menurunkan efisiensi sistem pendingin mesin.


Cara Penanggulangan dan Pencegahan
  • Pembersihan Elektroda Secara Berkala. Gunakan sikat nilon atau scraper non-logam. Hindari penggunaan alat tajam yang dapat merusak permukaan elektroda.
  • Pengaturan Arus MGPS Sesuai Rekomendasi. Set arus berdasarkan manual maker. Sesuaikan dengan salinitas dan suhu air laut. Hindari pengoperasian terus-menerus pada arus maksimum.
  • Menjaga Aliran Air Laut Tetap Baik. Lakukan pembersihan sea chest secara rutin. Pastikan strainer dalam kondisi bersih. Hindari MGPS aktif lama saat tidak ada aliran air.
  • Inspeksi dan Penggantian Elektroda. Lakukan pemeriksaan visual secara periodik. Ganti elektroda jika telah aus atau mengalami kerusakan signifikan.
Jika kita perhatikan, hampir semua peralatan keselamatan di kapal seperti lifejacket, lifeboat, rescue boat, dan lifebuoy selalu dicat dengan warna oranye terang. Pemilihan warna ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan pertimbangan keselamatan, visibilitas, dan standar internasional.

Rescue boat dikapal. (Gambar: Dokumentasi penulis).


Beberapa alasan pemilihan warna orange untuk peralatan keselamatan dikapal adalah,
1. Visibilitas Tinggi di Laut
Warna oranye memiliki tingkat kontras yang sangat tinggi terhadap warna laut yang dominan biru atau hijau. Dalam kondisi darurat, terutama saat cuaca buruk, gelombang tinggi, hujan, atau kabut, warna oranye jauh lebih mudah terlihat dibandingkan warna lain. Hal ini sangat penting agar korban dan peralatan keselamatan dapat segera ditemukan.

 

2. Standar dan Regulasi Internasional
Penggunaan warna oranye pada peralatan keselamatan kapal diatur dalam konvensi internasional SOLAS (Safety of Life at Sea) yang diterbitkan oleh International Maritime Organization (IMO). Standar ini mewajibkan lifeboat, rescue boat, liferaft, lifebuoy, dan life jacket menggunakan warna international orange atau warna dengan visibilitas tinggi yang setara, demi meningkatkan keselamatan jiwa di laut.

 

3. Kemudahan Deteksi oleh Tim Penyelamat
Dalam operasi Search and Rescue (SAR), peralatan keselamatan berwarna oranye sangat mudah dikenali baik dari kapal penyelamat maupun dari udara menggunakan helikopter atau pesawat. Warna ini tetap terlihat jelas dari jarak jauh, bahkan di tengah gelombang dan percikan air laut.

 

4. Efek Psikologis Warna
Secara psikologis, warna oranye diasosiasikan dengan peringatan, bahaya, dan keadaan darurat. Warna ini secara alami menarik perhatian manusia sehingga membantu korban tetap terlihat dan mempercepat respons penyelamatan.

Selain warna oranye, peralatan keselamatan kapal biasanya dilengkapi dengan pita reflektif, lampu darurat, dan sinyal asap, yang semakin meningkatkan kemungkinan terdeteksi pada siang maupun malam hari.

Struktur kapal mengalami berbagai jenis tegangan (stresses) akibat gelombang, beban muatan, gaya hidrodinamis, serta gerakan kapal itu sendiri. Tegangan‐tegangan ini memengaruhi kekuatan kapal dan menjadi pertimbangan utama dalam desain serta inspeksi kapal. Jenis tegangan struktur lambung kapal adalah sagging, hogging, pounding, torsion, racking, dan panting.

Berikut penjelasan dan perbedaan sagging, hogging, pounding, torsion, racking, dan panting.


1. Sagging

Sagging terjadi ketika bagian tengah kapal turun (melendut ke bawah) karena menerima beban lebih besar dibandingkan bagian haluan dan buritan.

Penyebab

  • Gelombang besar berada di tengah kapal, sedangkan haluan dan buritan berada di puncak gelombang.

  • Beban muatan terlalu berat di bagian tengah.

Efek

  • Lentur pada girder dan deck.

  • Kemungkinan retak pada pelat dasar jika berulang.

Ciri utama

Tengah kapal melengkung ke bawah (bending downward).


2. Hogging

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Hogging adalah kebalikan dari sagging, di mana tengah kapal terangkat ke atas karena haluan dan buritan mendapatkan gaya angkat lebih besar.

Penyebab

  • Haluan dan buritan berada di puncak gelombang, sementara bagian tengah berada di lembah gelombang.

  • Beban muatan di haluan dan buritan lebih besar dibanding tengah.

Efek

  • Gaya tarik besar pada deck dan gaya tekan pada dasar kapal.

Ciri utama

Tengah kapal melengkung ke atas (bending upward).


3. Pounding

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Pounding adalah benturan keras berulang antara bagian bawah haluan kapal dengan permukaan air ketika kapal menghantam gelombang.

Penyebab

  • Kapal bergerak cepat di laut bergelombang.

  • Bow flare menghantam air saat kapal naik turun (pitching).

Efek

  • Kerusakan struktural pada bagian bawah haluan.

  • Retakan dan deformasi akibat impact load.

Ciri utama

Benturan vertikal antara haluan dan permukaan laut.


4. Torsion

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Torsion adalah tegangan puntir pada kapal karena bagian haluan dan buritan mengalami gerakan berbeda akibat gelombang tidak sejajar dengan sumbu kapal.

Penyebab

  • Gelombang datang dari samping (quartering seas).

  • Kapal mengalami gerakan twist.

Efek

  • Distorsi pada midship.

  • Beban berat pada longitudinal framing dan deck.

Ciri utama

Struktur kapal terpuntir, sisi kiri dan kanan bergerak tidak serempak.


5. Racking

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Racking adalah gaya geser (shear) yang membuat badan kapal seolah miring atau terpuntir ke samping, tetapi dalam bentuk deformasi diagonal pada bagian samping kapal.

Penyebab

  • Gerakan rolling (mengguling) yang kuat akibat gelombang samping.

  • Tekanan lateral besar pada sisi kapal.

Efek

  • Deformasi pada frame samping (side frames).

  • Kelelahan pelat dinding sisi (side shell) dan sekat.

Ciri utama

Rangka samping menerima gaya geser yang membuat bentuknya terdistorsi ke samping.


6. Panting

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Panting adalah gerakan naik turun / berdenyut pada pelat sisi haluan saat menerima tekanan air secara bergantian karena gelombang.

Penyebab

  • Tekanan air yang berfluktuasi besar pada area haluan.

  • Kapal menembus gelombang (bow slamming).

Efek

  • Pelat haluan bisa melengkung.

  • Kelelahan material di area bow.

Ciri utama

Pelat haluan mengalami tekanan berdenyut berulang (in-and-out movement).

Shaft Propeller Grounding System adalah sistem yang dirancang untuk mengalirkan arus listrik dari shaft propeller ke lambung kapal untuk mencegah potensi kerusakan akibat arus galvani atau korosi elektroda. Sistem ini sangat penting bagi kapal yang beroperasi dengan mesin penggerak besar, karena kapal-kapal ini sering beroperasi di lingkungan laut yang memiliki sifat konduktivitas tinggi. Tanpa sistem grounding yang tepat, bisa timbul berbagai masalah yang berpotensi merusak peralatan dan struktur kapal.

Propeller shaft grounding. (Foto: Dokumentasi penulis).

Pada dasarnya, shaft propeller grounding system berfungsi untuk menjaga keseimbangan tegangan listrik yang dihasilkan oleh propeller shaft, yang dapat memengaruhi elemen-elemen logam di kapal. Komponen utama dari sistem ini adalah koneksi antara poros propeller dengan lambung kapal menggunakan kawat konduktor, yang mengalirkan arus listrik yang mungkin terjadi di sepanjang poros. Arus listrik ini bisa berasal dari sumber luar, seperti listrik statis atau arus galvanik, yang bisa merusak bagian-bagian kapal jika tidak ditangani dengan benar.

Tegangan listrik yang muncul dapat menyebabkan korosi elektroda pada berbagai bagian kapal, termasuk sistem propulsi dan bagian bawah lambung kapal yang sering bersentuhan langsung dengan air laut. Proses ini, yang disebut korosi galvanik, terjadi ketika dua logam berbeda terhubung dalam larutan konduktif (seperti air laut), menyebabkan arus listrik mengalir dan menimbulkan kerusakan pada komponen logam.

Alasan Pentingnya Pemasangan Shaft Propeller Grounding System

  1. Mencegah Korosi Galvanik
    Tanpa grounding yang tepat, perbedaan potensial listrik antara logam yang berbeda di kapal dapat menyebabkan arus galvanik yang merusak. Korosi galvanik pada bagian-bagian logam kapal yang terendam di laut dapat mengurangi umur kapal secara signifikan dan memerlukan biaya pemeliharaan yang besar.

  2. Perlindungan pada Sistem Propulsi
    Shaft propeller adalah bagian yang sangat krusial dalam sistem propulsi kapal. Jika sistem ini tidak dilindungi dari potensi arus listrik yang merusak, maka kerusakan pada poros propeller, bilah propeller, dan bahkan komponen lain dari sistem propulsi bisa terjadi. Sistem grounding yang baik akan memastikan bahwa arus listrik berbahaya tidak mengalir melalui bagian-bagian penting ini.

  3. Keamanan Kapal dan Kru
    Selain masalah korosi, grounding yang buruk bisa berisiko meningkatkan bahaya kebakaran atau bahkan risiko sengatan listrik pada kapal. Arus listrik yang tidak terkontrol dapat mengganggu peralatan listrik dan bahkan merusak sistem navigasi kapal, yang berpotensi mengancam keselamatan kru kapal dan navigasi.

  4. Memastikan Kinerja Optimal Kapal
    Dengan grounding yang baik, sistem propulsi dan komponen kelistrikan lainnya akan berfungsi lebih efisien dan tahan lama. Hal ini berkontribusi pada pemeliharaan kapal yang lebih mudah dan biaya operasional yang lebih rendah.

Akibat Jika Shaft Propeller Grounding System Tidak Terpasang

  1. Korosi yang Cepat pada Komponen Logam
    Tanpa sistem grounding, arus galvanik akan mengalir bebas antara berbagai komponen kapal yang terbuat dari logam berbeda. Hal ini menyebabkan korosi yang cepat pada bagian bawah lambung kapal dan propeller shaft. Korosi ini tidak hanya merusak komponen secara fisik, tetapi juga mengurangi kekuatan struktural kapal.

  2. Kerusakan pada Poros dan Propeller
    Tanpa grounding, shaft propeller yang terbuat dari bahan logam yang berbeda bisa terpengaruh oleh arus listrik yang merusak. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan deformasi pada shaft dan kerusakan pada bilah propeller, yang pada akhirnya mengurangi efisiensi dan performa sistem propulsi kapal.

  3. Peningkatan Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan
    Kapal yang tidak dilengkapi dengan shaft propeller grounding system lebih rentan terhadap kerusakan dan korosi. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya pemeliharaan yang signifikan karena harus sering mengganti bagian-bagian yang rusak. Pemeliharaan yang tidak terencana dapat mengganggu jadwal operasional kapal.

  4. Pengaruh Terhadap Sistem Listrik Kapal
    Tanpa grounding, arus listrik yang tidak terkontrol dapat merusak sistem kelistrikan kapal, termasuk alat navigasi dan komunikasi, serta sistem pengendali mesin. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu operasi kapal, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan kapal dan kru.

  5. Peningkatan Risiko Kebakaran
    Adanya tegangan listrik yang tidak terkontrol di dalam kapal juga meningkatkan risiko kebakaran, terutama jika ada komponen yang mengalami korsleting atau terjadi lonjakan arus listrik. Kebakaran di kapal dapat sangat berbahaya karena akses terbatas dan kecepatan penyebaran api yang tinggi.

Schedule pipa (Pipe Schedule / SCH) adalah penomoran standar yang digunakan untuk menentukan ketebalan dinding pipa pada pipa baja, pipa besi, dan material lainnya. Nomor ini tidak menunjukkan ukuran pasti, tetapi menjadi acuan untuk mengetahui seberapa kuat pipa tersebut digunakan dalam sistem bertekanan.

Fungsi utama schedule pipa,
  1. Menentukan ketahanan tekanan. Pipa dengan schedule tinggi dapat digunakan untuk sistem dengan tekanan tinggi (misal sistem hidrolik, bahan bakar, uap).
  2. Menyesuaikan jenis fluida yang dialirkan. Fluida panas, korosif, atau berbahaya biasanya memerlukan pipa dengan schedule lebih tinggi.
  3. Menjamin keselamatan dan keandalan sistem perpipaan kapal. Kesalahan pemilihan schedule bisa menyebabkan kebocoran, pecahnya pipa, hingga kecelakaan.

Beberapa jenis schedule yang sering digunakan antara lain:
  1. Schedule 40: Umum digunakan untuk aplikasi standar di kapal, terutama untuk saluran air dan saluran buang. (Pipa standar untuk tekanan rendah–menengah)
  1. Schedule 80: Digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan ketahanan lebih tinggi terhadap tekanan. (Pipa tebal untuk tekanan menengah–tinggi). Umumnya digunakan untuk sistem hidrolik dan pipa bahan bakar.
  1. Schedule 160: Digunakan untuk sistem dengan tekanan sangat tinggi, seperti beberapa aplikasi mesin kapal atau sistem yang mengalirkan bahan kimia berbahaya.
  1. Schedule XXS (Extra Extra Strong): Ini adalah pipa dengan ketebalan dinding tertinggi yang umumnya digunakan untuk aplikasi dengan tekanan ekstrem. Biasanya digunakan untuk sistem yang memerlukan daya tahan ekstra, seperti sistem pembuangan bahan kimia atau gas berbahaya.

Umumnya schedule pipa dapat diidentifikasi pada marking yang tertulis pada permukaan pipa baru.

Dalam prakteknya di lapangan, kita akan menemukan kode angka dan tanda panah pada permukaan body valve.


Sebagai contoh, tertulis kode 5K – 32 yang artinya,

- Kode ini mengikuti standard jepang (JIS – Japanese Industrial Standard) untuk system pipa dan valves.

- 5K artinya kelas tekanan nominal (pressure rating). Dimaksudkan valve dirancang untuk tekanan kerja 5kg/cm2 atau 0,5MPa. Huruf “K” berasal dari kata kilogram per square centimeter (kgf/cm2). Kondisi ini juga berlaku untuk pressure rating yang lain seperti 10K, 16K dan seterusnya.

- 32 artinya ukuran nominal (nominal diameter)  DN25, yaitu pipa dengan diameter nominal 32 mm atau 1¼ inch.

Berikut ini adalah daftar nominal diameter yang digunakan dalam standard pipa dan valve.

Nominal Diameter (mm)

Ukuran (inch)

 

Nominal Diameter (mm)

Ukuran (inch)

6

1/8

 

65

2½

8

1/4

 

80

3

10

3/8

 

100

4

15

1/2

 

125

5

20

3/4

 

150

6

25

1

 

200

8

32

1¼

 

250

10

40

1½

 

300

12

50

2

 

350

14