Just another free Blogger theme
- alat komunikasi dan/atau sarana pemberi tanda sesuai persyaratan;
- pyrotechnics atau alat sinyal;
- perlengkapan pertolongan pertama;
- air minum dan perlengkapan survival;
- makanan darurat;
- alat perbaikan;
- perlengkapan untuk mengambil air;
- dayung atau perlengkapan penggerak yang dipersyaratkan;
- lampu;
- sea anchor;
- perlengkapan keselamatan lainnya.
- Isi dan konfigurasi perlengkapan bergantung pada tipe liferaft, kapasitas, jenis kapal, serta persyaratan yang berlaku.
Periksa apakah terdapat:kerusakan;retak;deformasi;korosi pada bagian tertentu;strap atau securing yang bermasalah;marking yang tidak terbaca.
2. Service date
Perhatikan tanggal atau informasi servicing.Jangan menganggap liferaft aman hanya karena container masih terlihat bagus.
Pastikan pengaturan painter sesuai dengan desain dan tidak mengalami kondisi yang dapat mengganggu operasinya.
Jika menggunakan HRU, kondisi dan masa berlaku/service information harus diperhatikan.
Liferaft harus terpasang dengan benar pada tempat penyimpanannya. Securing yang terlalu longgar dapat menyebabkan masalah saat kapal mengalami gerakan berat.
Pada mesin diesel dua langkah (two-stroke marine diesel engine), perubahan arah putaran mesin dari ahead ke astern merupakan proses yang harus dilakukan dengan sangat presisi. Ketika arah putaran berubah, waktu penyemprotan bahan bakar (fuel injection timing) juga harus disesuaikan agar pembakaran tetap berlangsung pada saat yang tepat.
Beberapa pabrikan mesin menggunakan sistem Lost Motion, yaitu dengan menggeser posisi cam terhadap crankshaft. Namun, MAN B&W MC Series menggunakan pendekatan yang berbeda. Alih-alih memutar cam, sistem ini menggeser posisi roller cam follower ke sisi lain dari profil cam menggunakan aktuator pneumatik.
Metode ini dikenal sebagai Reversible Cam Follower atau Shifting Cam Follower.
Mengapa Diperlukan Pengaturan Timing Saat Reversing?
Pada mesin diesel dua langkah, pompa bahan bakar digerakkan oleh cam yang terpasang pada camshaft. Profil cam dirancang agar plunger pompa menekan bahan bakar pada saat piston mendekati Top Dead Centre (TDC).
Jika arah putaran mesin dibalik tanpa penyesuaian mekanisme, maka roller follower akan menyentuh sisi cam yang berbeda. Akibatnya:
- langkah tekan (delivery stroke) berubah menjadi langkah hisap (suction stroke);
- injeksi bahan bakar terjadi pada waktu yang salah atau bahkan tidak terjadi sama sekali;
- mesin tidak dapat menghasilkan pembakaran yang benar.
Karena itu, diperlukan mekanisme untuk mengembalikan timing injeksi agar sesuai dengan arah putaran mesin.
Prinsip Kerja Reversible Cam Follower
Berbeda dengan sistem Lost Motion yang memutar posisi cam, pada mesin MAN B&W MC Series cam tetap berada pada posisinya. Yang dipindahkan adalah roller follower.
Perubahan posisi roller dilakukan oleh sebuah silinder pneumatik (air cylinder) yang dioperasikan oleh sistem kontrol mesin ketika menerima perintah reversing.
Dengan berpindahnya roller ke sisi lain profil cam, roller kembali mengikuti sisi naik (rising flank) cam yang sesuai untuk arah putaran baru. Akibatnya, plunger fuel pump kembali melakukan langkah tekan pada saat yang tepat sehingga injeksi bahan bakar berlangsung sesuai kebutuhan mesin.
Cara Kerja Sistem
1. Mesin Beroperasi Ahead
Pada kondisi normal:
- crankshaft dan camshaft berputar sesuai arah ahead;
- roller follower berada pada sisi cam untuk operasi ahead;
- plunger fuel pump melakukan langkah tekan sesuai timing yang telah ditentukan;
- injeksi bahan bakar terjadi beberapa derajat sebelum TDC.
2. Perintah Astern Diberikan
Ketika operator memilih mode astern:
- sistem kontrol mengaktifkan silinder pneumatik;
- udara bertekanan mendorong piston aktuator;
- mekanisme penghubung menggeser roller follower secara lateral menuju sisi cam untuk operasi astern.
Pada tahap ini cam tidak diputar, hanya posisi roller yang berubah.
3. Mesin Berputar Astern
Setelah roller berada pada posisi baru:
- roller kembali naik mengikuti profil cam yang sesuai;
- plunger fuel pump kembali melakukan delivery stroke;
- injeksi bahan bakar kembali terjadi sebelum piston mencapai TDC;
- mesin dapat bekerja normal dalam arah putaran astern.
Silinder pneumatik berfungsi sebagai aktuator yang memindahkan roller follower dengan cepat dan akurat.
Keuntungan penggunaan aktuator pneumatik antara lain:
- respons cepat saat reversing;
- konstruksi sederhana;
- gaya dorong cukup besar;
- mudah diintegrasikan dengan sistem kontrol mesin.
Perpindahan roller dilakukan secara otomatis sehingga operator tidak perlu melakukan penyetelan secara manual.
Untuk memastikan roller benar-benar telah berpindah, mekanisme ini dilengkapi microswitch sebagai sensor posisi.
Sensor tersebut mengirimkan sinyal ke ruang kontrol bahwa roller telah berada pada posisi yang benar.
Apabila roller gagal berpindah, misalnya akibat korosi atau kemacetan mekanisme:
- indikator peringatan akan menyala di ruang kontrol;
- sistem tetap dapat menghidupkan mesin pada kondisi tertentu;
- alarm temperatur gas buang biasanya akan muncul karena pembakaran menjadi tidak normal.
Dengan adanya sistem pemantauan ini, awak mesin dapat segera melakukan pemeriksaan sebelum kerusakan berkembang lebih lanjut.
Metode ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan mekanisme yang memutar cam, yaitu:
- tidak memerlukan pemutaran camshaft terhadap crankshaft;
- konstruksi cam lebih sederhana;
- perpindahan timing berlangsung cepat;
- keausan komponen relatif lebih rendah;
- meningkatkan keandalan saat manuver kapal;
- memudahkan proses perawatan.
Pada mesin diesel kapal berukuran besar (slow speed two-stroke marine diesel engine), perubahan arah putaran mesin merupakan hal yang umum dilakukan ketika kapal melakukan manuver, seperti saat sandar, lepas sandar, atau keadaan darurat. Agar mesin tetap bekerja dengan waktu penyemprotan bahan bakar (fuel injection timing) yang tepat ketika arah putaran berubah, diperlukan suatu mekanisme yang disebut Lost motion.
Lost motion merupakan salah satu mekanisme penting pada sistem bahan bakar mesin diesel dua langkah yang menggunakan camshaft. Tanpa sistem ini, mesin tidak akan mampu menghasilkan pembakaran yang benar ketika beroperasi dalam arah putaran berlawanan.
Lost motion adalah sudut perpindahan (angular displacement) cam bahan bakar terhadap poros engkol (crankshaft) yang dilakukan ketika mesin dibalik arah putarannya (ahead menjadi astern atau sebaliknya).
Perubahan posisi cam ini bertujuan untuk mengembalikan waktu injeksi bahan bakar agar tetap terjadi pada posisi piston yang benar, meskipun arah putaran mesin telah berubah.
Dengan kata lain, lost motion adalah proses menggeser posisi camshaft terhadap crankshaft tanpa mengubah posisi crankshaft itu sendiri.
Mengapa Lost Motion Diperlukan?
Pada mesin dua langkah, fuel pump digerakkan langsung oleh camshaft.
Saat mesin berputar normal (Ahead):
- Cam berputar searah tertentu.
- Roller follower naik mengikuti profil cam.
- Plunger fuel pump menekan bahan bakar.
- Injeksi terjadi beberapa derajat sebelum Top Dead Centre (TDC).
Semua proses tersebut telah disesuaikan dengan arah putaran mesin.
Namun ketika mesin dibalik arah putarannya:
- Crankshaft berputar berlawanan arah.
- Camshaft ikut berputar berlawanan.
- Profil cam kini mengenai roller follower dari sisi yang berbeda.
Akibatnya, waktu injeksi berubah total.
Bahkan bisa terjadi bahwa ketika piston hampir mencapai TDC, plunger justru sedang melakukan langkah hisap (suction stroke), sehingga tidak terjadi injeksi sama sekali.
Oleh karena itu posisi cam harus dipindahkan. Inilah fungsi utama lost motion.
Cara Kerja Lost Motion
1. Mesin Berputar Ahead (Normal)
Pada kondisi normal:
- Crankshaft berputar searah jarum jam (contoh).
- Camshaft juga berputar searah.
- Roller follower mulai naik pada sisi naik cam (cam rise).
- Plunger fuel pump mulai menekan bahan bakar.
- Injeksi dimulai sebelum piston mencapai TDC.
Posisi ini disebut timing injeksi normal.
2. Setelah Melewati TDC
Ketika piston baru melewati TDC:
- Roller follower berada hampir di puncak cam.
- Plunger telah selesai menekan bahan bakar.
- Injeksi selesai.
- Mesin menghasilkan tenaga.
Semua berlangsung sesuai urutan kerja mesin.
3. Mesin Dibalik Menjadi Astern
Ketika operator memberikan perintah:
Astern
Maka:
- Mesin dihentikan.
- Crankshaft akan berputar berlawanan arah.
- Camshaft juga ikut berputar berlawanan.
Masalah muncul karena:
Cam kini menyentuh roller follower dari sisi yang salah.
Akibatnya:
- Roller follower justru turun.
- Plunger bergerak ke bawah.
- Fuel pump melakukan suction stroke.
Padahal piston sudah mendekati TDC.
Artinya:
Tidak ada injeksi.
Mesin tidak mungkin hidup.
4. Lost Motion Bekerja
Agar timing kembali benar, sistem hydraulic servomotor memutar seluruh cam terhadap camshaft.
Cam dipindahkan beberapa derajat.
Sudut perpindahan inilah yang dinamakan:
Lost Motion Angle
Sesudah cam berpindah:
- Roller kembali naik pada waktu yang tepat.
- Fuel pump kembali melakukan delivery stroke.
- Injeksi kembali terjadi sebelum TDC.
- Mesin dapat hidup dalam arah astern.
Lost motion tidak mengubah bentuk cam.
Yang berubah hanyalah:
- posisi sudut cam,
- terhadap crankshaft.
Misalnya:
Semula injeksi dimulai pada:
15° BTDC
Setelah mesin dibalik:
cam diputar beberapa derajat sehingga kembali menghasilkan injeksi sekitar:
15° BTDC
walaupun arah putaran mesin berubah.
Komponen yang terlibat
Beberapa komponen utama dalam sistem lost motion antara lain:
- Camshaft
- Fuel pump cam
- Cam follower (roller)
- Fuel pump plunger
- Hydraulic servomotor
- Reversing mechanism
- Engine control system
Semua komponen bekerja secara sinkron agar perubahan arah putaran berlangsung cepat dan aman.
Keuntungan sistem lost motion
Beberapa manfaat penggunaan lost motion antara lain:
- Menjaga timing injeksi tetap akurat.
- Memungkinkan mesin beroperasi maju maupun mundur.
- Menjamin pembakaran tetap sempurna.
- Mempermudah proses manuver kapal.
- Mengurangi risiko gagal start saat reversing.
- Meningkatkan keandalan sistem bahan bakar.
- Mengurangi getaran akibat timing yang salah.
Gangguan pada sistem Lost Motion dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:
- Mesin sulit start saat astern.
- Injeksi bahan bakar terlambat atau terlalu awal.
- Pembakaran tidak sempurna.
- Asap hitam meningkat.
- Tenaga mesin berkurang.
- Konsumsi bahan bakar meningkat.
- Mesin gagal melakukan reversing.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan kapal saat bermanuver, terutama ketika memasuki pelabuhan.
Pemeriksaan dan Perawatan
Untuk menjaga kinerja sistem lost motion, beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain:
- Memeriksa kondisi hydraulic servomotor.
- Memastikan pergerakan cam bebas dari hambatan.
- Memeriksa keausan roller follower.
- Memeriksa keausan profil cam.
- Memastikan mekanisme reversing bekerja normal.
- Memeriksa kebocoran sistem hidrolik.
- Melakukan pengujian timing injeksi sesuai manual pabrikan.
Perawatan yang baik akan memastikan perubahan arah putaran mesin berlangsung cepat, aman, dan sesuai desain.
Crankcase Explosion Relief Valve merupakan salah satu perangkat keselamatan yang wajib dipasang pada mesin diesel berdaya menengah hingga besar, terutama pada main engine & generator engine di kapal. Komponen ini dirancang untuk melindungi crankcase dari kerusakan akibat ledakan internal (crankcase explosions) yang dapat terjadi karena penyalaan kabut minyak pelumas (oil mist). Oil mist detector. Klik disini.
Gambar di atas menunjukkan konstruksi penampang (cross section) dari sebuah Crankcase Explosion Relief Valve, lengkap dengan komponen-komponen penyusunnya.
Mengapa Crankcase Bisa Meledak?
Ledakan di dalam crankcase umumnya diawali oleh kondisi berikut:
- Gesekan berlebihan pada bearing akibat pelumasan yang buruk.
- Overheating pada komponen bergerak.
- Terbentuknya kabut minyak pelumas (oil mist).
- Munculnya titik panas (hot spot) yang menyulut kabut minyak.
Apabila tekanan meningkat secara tiba-tiba akibat pembakaran tersebut, crankcase dapat mengalami ledakan yang berpotensi merusak mesin dan membahayakan keselamatan awak kapal.
Fungsi Crankcase Explosion Relief Valve
Crankcase Explosion Relief Valve berfungsi untuk:
- Melepaskan tekanan berlebih dari dalam crankcase.
- Mencegah kerusakan struktur crankcase akibat ledakan.
- Mengurangi risiko kebakaran lanjutan.
- Melindungi personel di sekitar mesin dari semburan api dan tekanan.
Katup ini bekerja secara otomatis tanpa memerlukan sumber tenaga tambahan.
Komponen Utama
Berdasarkan gambar, komponen penyusun relief valve meliputi:
Prinsip Kerja
Dalam kondisi operasi normal, pegas menekan katup sehingga tetap tertutup rapat.
Ketika terjadi ledakan kecil di dalam crankcase, tekanan meningkat dengan sangat cepat. Tekanan tersebut mengatasi gaya pegas sehingga katup terbuka sesaat. Gas bertekanan keluar melalui gauze assembly, sementara nyala api didinginkan dan dipadamkan oleh jaring logam sehingga tidak menyebar ke ruang mesin.
Setelah tekanan kembali normal, pegas akan mengembalikan katup ke posisi tertutup secara otomatis.
Perawatan dan Pemeriksaan
Agar tetap berfungsi dengan baik, Crankcase Explosion Relief Valve perlu diperiksa secara berkala, meliputi:
- Memastikan pegas masih memiliki gaya tekan sesuai spesifikasi.
- Memeriksa kondisi O-ring dari kerusakan atau kebocoran.
- Membersihkan gauze assembly dari kerak oli dan kotoran.
- Memastikan katup dapat bergerak bebas tanpa macet.
- Melakukan pemeriksaan sesuai jadwal perawatan yang direkomendasikan oleh pabrikan mesin.
Crankcase Explosion Relief Valve merupakan perangkat keselamatan yang sangat penting pada mesin diesel kapal. Meskipun jarang bekerja dalam kondisi normal, komponen ini menjadi perlindungan utama ketika terjadi ledakan di dalam crankcase. Oleh karena itu, pemeriksaan dan perawatan berkala wajib dilakukan agar katup selalu siap bekerja secara optimal saat dibutuhkan, sehingga keselamatan mesin, kapal, dan awak tetap terjaga.
Sistem kemudi merupakan salah satu peralatan vital di atas kapal. Kehilangan kemampuan mengendalikan arah kapal dapat menyebabkan tabrakan, kandas, maupun kecelakaan serius lainnya. Oleh karena itu, setiap kapal diwajibkan memiliki sistem kemudi darurat, yaitu sistem kemudi yang tetap mampu mengoperasikan kemudi apabila sistem utama mengalami kegagalan.
Gambar di atas menunjukkan skema sederhana Emergency Rudder Plant dengan dua unit pompa hidrolik dan dua kelompok silinder (cylinder group) yang dirancang untuk meningkatkan keandalan sistem kemudi.
Fungsi Komponen Utama
1. Oil Tank
Tangki oli berfungsi sebagai tempat penyimpanan oli hidrolik yang akan disirkulasikan ke seluruh sistem. Oli hidrolik berperan sebagai media penghantar tenaga dari pompa menuju silinder kemudi.
2. Hydraulic Pump 1 dan Hydraulic Pump 2
Dua pompa hidrolik dipasang secara independen sebagai bentuk redundansi. Dalam kondisi normal, salah satu pompa bekerja sedangkan pompa lainnya berada dalam kondisi siaga (stand-by). Apabila pompa utama gagal, pompa cadangan dapat segera dioperasikan sehingga sistem kemudi tetap berfungsi.
3. Cylinder Group 1 dan Cylinder Group 2
Kedua kelompok silinder hidrolik mengubah tekanan oli menjadi gerakan mekanis yang memutar rudder stock (poros kemudi). Penggunaan dua kelompok silinder membuat gaya kemudi lebih besar sekaligus meningkatkan keandalan sistem.
4. Rudder Shaft
Rudder shaft atau rudder stock merupakan poros yang menghubungkan aktuator hidrolik dengan daun kemudi (rudder). Putaran poros inilah yang menyebabkan kapal dapat berbelok ke kanan maupun ke kiri.
5. Automatic Valve
Katup otomatis mengatur jalur aliran oli hidrolik menuju silinder yang diperlukan. Pada kondisi darurat, katup ini membantu mengisolasi bagian sistem yang mengalami gangguan sehingga bagian lain masih dapat beroperasi.
6. Isolation Valve
Katup-katup bernomor 1 sampai 9 merupakan katup isolasi yang digunakan saat perawatan maupun ketika terjadi kerusakan pada salah satu bagian sistem. Dengan menutup katup tertentu, kebocoran dapat diisolasi sehingga sistem masih dapat dioperasikan menggunakan komponen yang masih baik.
Prinsip Kerja
Pompa hidrolik menghisap oli dari tangki kemudian menyalurkannya ke salah satu sisi silinder. Tekanan oli mendorong piston sehingga menghasilkan gerakan linier. Gerakan ini diteruskan ke rudder shaft sehingga daun kemudi berputar sesuai arah yang diinginkan.
Ketika arah kemudi dibalik, aliran oli juga dibalik sehingga piston bergerak ke arah sebaliknya dan rudder berputar ke sisi yang berlawanan.
Apabila salah satu pompa atau salah satu kelompok silinder mengalami kerusakan, operator dapat mengisolasi bagian tersebut melalui katup-katup yang tersedia dan mengoperasikan sistem menggunakan pompa maupun silinder yang masih berfungsi. Inilah prinsip utama dari Emergency Rudder Plant, yaitu mempertahankan kemampuan olah gerak kapal meskipun terjadi kegagalan pada sebagian sistem.
Keunggulan Sistem
- Memiliki dua pompa hidrolik sebagai cadangan.
- Dua kelompok silinder meningkatkan keandalan sistem.
- Katup isolasi memungkinkan kerusakan dilokalisasi tanpa menghentikan seluruh sistem.
- Tetap mampu mengendalikan kapal dalam kondisi darurat.
- Memenuhi persyaratan keselamatan internasional mengenai sistem kemudi kapal.
Emergency Rudder Plant merupakan sistem pengaman yang sangat penting dalam instalasi kemudi kapal. Dengan konfigurasi pompa ganda, silinder ganda, dan katup isolasi, sistem ini memastikan kapal tetap dapat dikendalikan meskipun terjadi kegagalan pada salah satu komponen. Keandalan sistem kemudi darurat menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan pelayaran, melindungi awak kapal, muatan, serta lingkungan laut dari risiko kecelakaan akibat kehilangan kendali arah kapal.
Dalam operasional kapal modern, pengelolaan limbah cair merupakan salah satu aspek penting untuk menjaga kelestarian lingkungan laut dan memenuhi ketentuan internasional. Salah satu dokumen yang digunakan untuk mencatat pengelolaan limbah tersebut adalah Sewage & Graywater Discharge Record Book.
Buku catatan ini berfungsi sebagai rekaman resmi seluruh aktivitas pembuangan (discharge), pemindahan (transfer), pengolahan (treatment), maupun penampungan limbah sewage dan graywater yang dihasilkan selama kapal beroperasi.
Sewage adalah limbah cair yang berasal dari fasilitas sanitasi kapal, seperti:
- Toilet (water closet)
- Urinoir
- Ruang medis atau rumah sakit kapal
- Saluran pembuangan yang terhubung dengan toilet
Limbah ini mengandung bahan organik, bakteri, virus, dan zat pencemar lainnya sehingga memerlukan pengolahan khusus sebelum dibuang ke laut.
Graywater adalah limbah cair yang berasal dari aktivitas domestik selain toilet, seperti:
- Air bekas mandi
- Air wastafel
- Air cucian pakaian
- Air cucian dapur (galley)
- Air bekas pencucian akomodasi
Graywater umumnya memiliki tingkat pencemaran lebih rendah dibanding sewage, namun tetap dapat mengandung deterjen, minyak, lemak, dan bahan kimia lainnya.
Tujuan penggunaan Sewage & Graywater Discharge Record Book digunakan untuk:
- Membuktikan kepatuhan kapal terhadap regulasi lingkungan.
- Mendokumentasikan seluruh aktivitas pembuangan limbah cair.
- Menjadi bukti saat pemeriksaan oleh Port State Control (PSC).
- Memudahkan pelacakan apabila terjadi dugaan pencemaran laut.
- Mendukung sistem manajemen lingkungan perusahaan pelayaran.
Sewage & Graywater Discharge Record Book disusun mengacu pada:
- MARPOL Annex IV – Prevention of Pollution by Sewage from Ships.
- Ketentuan tambahan dari negara pelabuhan (Port State).
- Persyaratan perusahaan dan klasifikasi kapal.
- Resolusi IMO yang berkaitan dengan pengelolaan limbah kapal.
Setiap kegiatan terkait sewage dan graywater biasanya dicatat dengan informasi berikut:
- Tanggal: Waktu kegiatan dilakukan.
- Posisi kapal: Latitude dan Longitude.
- Jenis limbah: Sewage atau Graywater. Ini
- Jumlah limbah: Volume yang dibuang atau dipindahkan.
- Metode pengolahan: Melalui STP atau langsung ke holding tank.
- Tujuan pembuangan: Laut atau fasilitas penerima di darat.
- Nama petugas: Perwira yang bertanggung jawab.
- Tanda tangan: Verifikasi pencatatan.
Kesalahan pencatatan dapat mengakibatkan:
- Temuan saat inspeksi PSC.
- Denda dari otoritas pelabuhan.
- Penahanan kapal (detention).
- Kerugian reputasi perusahaan.
- Dugaan pelanggaran MARPOL.
Oleh karena itu setiap entri harus dibuat secara akurat, lengkap, dan segera setelah kegiatan dilakukan.
Beberapa peralatan yang berkaitan dengan pencatatan ini antara lain:
- Sewage Treatment Plant (STP). Peralatan untuk mengolah sewage sehingga memenuhi standar sebelum dibuang ke laut.
- Holding Tank. Tangki penampung sementara limbah sebelum diolah atau dibuang ke fasilitas penerima di pelabuhan.
- Discharge Pump. Pompa yang digunakan untuk memindahkan atau membuang limbah dari tangki.
- Overboard Valve. Katup pembuangan ke laut yang penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan MARPOL.
Tidak semua kapal diwajibkan memiliki Sewage & Graywater Discharge Record Book. Kewajiban ini biasanya bergantung pada regulasi negara bendera (Flag State), perusahaan, dan jenis operasi kapal.
Secara umum, kapal yang biasanya memiliki buku ini adalah:
1. Kapal Penumpang (Passenger Ships)
- Kapal ferry.
- Kapal pesiar (cruise ship).
- Ro-Pax vessel.
- Kapal penumpang menghasilkan sewage dan graywater dalam jumlah besar sehingga pencatatannya lebih ketat.
- Dilengkapi Sewage Treatment Plant (STP).
- Memiliki holding tank sewage.
- Memiliki sistem discharge ke laut.
3. Kapal yang Beroperasi di Wilayah dengan Persyaratan Lingkungan Khusus. Misalnya:
- Alaska.
- Great Lakes (Amerika Utara).
- Beberapa kawasan Eropa.
- Area sensitif lingkungan tertentu.
Dalam sistem permesinan kapal, penyambungan poros memegang peranan penting untuk memastikan tenaga dari mesin dapat diteruskan secara aman dan efisien. Salah satu metode modern yang banyak digunakan adalah OK Coupling, yaitu sistem kopling hidrolik yang memanfaatkan tekanan oli untuk pemasangan dan pelepasan coupling tanpa proses pemanasan berlebih maupun pemukulan mekanis.
Metode ini dikenal praktis, presisi, dan mampu mengurangi risiko kerusakan pada poros maupun sleeve coupling.
OK Coupling adalah jenis sambungan poros berbasis hydraulic interference fit. Sistem ini menggunakan tekanan oli untuk membentuk lapisan oli (oil film) di antara inner sleeve dan outer sleeve sehingga gesekan dapat dikurangi selama proses pemasangan.
Dengan metode ini, coupling dapat dipasang dengan sangat presisi serta menghasilkan ikatan yang kuat setelah tekanan dilepas.
Prinsip Kerja OK Coupling
1. Persiapan dan Penyambungan Sistem Hidrolik
Coupling dipasang pada poros. Selanjutnya:
- Injektor tekanan tinggi dihubungkan ke jalur A
- Pompa tekanan rendah dihubungkan ke ruang oli B
Pada tahap awal ini, sistem hidrolik dipersiapkan untuk membentuk lapisan oli di antara sleeve coupling.
2. Pembentukan Oil Film
Oli bertekanan tinggi dialirkan melalui jalur A.
Tekanan ini membentuk lapisan oli tipis antara:
- Inner sleeve
- Outer sleeve
Lapisan oli tersebut berfungsi untuk:
- Menghilangkan kontak langsung logam dengan logam
- Mengurangi gaya gesek
- Mempermudah pergeseran sleeve saat pemasangan
Proses ini sangat penting untuk mencegah kerusakan permukaan akibat gesekan berlebih.
3. Pergerakan Outer Sleeve
Setelah oil film terbentuk sempurna, oli mulai ditekan ke ruang hidrolik B.
Akibat tekanan tersebut:
- Outer sleeve bergerak ke arah taper
- Coupling mulai mengencang pada poros
Selama proses ini, injeksi oli pada jalur A tetap dilakukan agar lapisan oli tetap terbentuk dan tidak terjadi metal contact.
4. Posisi Akhir Coupling
Ketika diameter coupling telah mencapai nilai pemasangan yang ditentukan, coupling dianggap berada pada posisi akhir.
Selanjutnya:
- Tekanan pompa pada jalur A diturunkan
- Tekanan di ruang B dipertahankan sementara
Tahap ini bertujuan memastikan posisi coupling tetap stabil sebelum penguncian akhir terjadi.
5. Penguncian Akhir
Saat tekanan pada jalur A turun:
- Lapisan oli menghilang
- Gesekan antara sleeve meningkat
- Coupling mengikat poros dengan kuat
Setelah itu:
- Tekanan di ruang B dilepas
- Seluruh lubang injeksi ditutup plug
Pada kondisi ini, coupling sudah terkunci sempurna dan siap digunakan dalam operasi.
Keunggulan OK Coupling
Beberapa keuntungan penggunaan OK Coupling antara lain:
- Pemasangan lebih presisi
- Mengurangi kerusakan permukaan poros
- Tidak memerlukan pemanasan ekstrem
- Proses bongkar pasang lebih cepat
- Distribusi gaya lebih merata
- Cocok untuk sistem propulsi kapal modern
Megger tester adalah alat untuk mengukur tahanan isolasi (insulation resistance) pada kabel, motor listrik, generator, trafo, dan instalasi listrik. Nilai yang diukur biasanya dalam satuan Mega Ohm (MΩ).
Cara kerja megger tester:
- Megger menghasilkan tegangan DC tinggi.
- Tegangan ini diberikan ke isolasi peralatan listrik.
- Alat mengukur seberapa besar arus bocor yang melewati isolasi.
- Dari arus bocor tersebut dihitung nilai tahanan isolasi.
Semakin baik isolasi, arus bocor semakin kecil dan hasil data ukur nilai Mega Ohm semakin besar. Sebaliknya jika isolasi lembab, retak, kotor, atau rusak arus bocor membesar dan ilai Mega Ohm turun.
Megger tester menggunakan tegangan DC tertentu tergantung objek yang diuji. Berikut tegangan yang umum dipakai:
- pengukuran isolasi lebih stabil
- tidak dipengaruhi reaktansi induktif/kapasitif.
- lebih mudah mendeteksi kebocoran isolasi sebenarnya.
| Objek yang diuji | Tegangan Megger |
|---|---|
| Instalasi rumah 220V | 250V atau 500V DC |
| Motor listrik 440V | 500V DC |
| Panel dan kabel 440V | 500V DC |
| Motor/generator 3.3kV | 1000V DC |
| Sistem 6.6kV | 2500V–5000V DC |
| Trafo tegangan tinggi | 5kV–10kV DC |
Jika tegangan Megger terlalu kecil,Contoh: Motor 440V dites pakai Megger 100VEfeknya, Kebocoran isolasi tidak terdeteksi. Isolasi yang mulai rusak kadang baru “tembus” saat diberi tegangan tinggi. Kalau test voltage terlalu rendah, hasil terlihat bagus padahal saat operasi normal bisa terjadi leakage atau short.Ibaratnya: retakan kecil belum “terbuka”. Nilai Mega Ohm terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Karena tegangan rendah menghasilkan arus bocor kecil. Akibatnya, false good result peralatan dianggap aman padahal sebenarnya lemah
Jika tegangan Megger terlalu besarContoh: Kabel kontrol 24V dites pakai 5kV MeggerEfeknya lebih berbahaya dan isolasi bisa rusak.Tegangan DC tinggi dapat, menembus isolasi tipis, mempercepat breakdown, menyebabkan tracking karbon, merusak varnish winding.
- Peralatan harus OFF dan tidak bertegangan.
- Kapasitor harus dibuang muatannya.
- Jangan menyentuh terminal saat testing.
- Setelah test, lakukan discharge karena masih ada tegangan sisa.
- Jangan gunakan megger pada perangkat elektronik sensitif seperti PLC tanpa prosedur khusus.
International Shore Connection (ISC) adalah sambungan standar internasional yang digunakan untuk menghubungkan sistem pemadam kebakaran kapal dengan suplai air dari darat (shore fire main).
ISC dipasang apabila sistem pemadam kebakaran kapal mengalami kerusakan atau tekanan fire main kapal tidak mencukupi saat terjadi kebakaran di pelabuhan.
Peralatan ini diwajibkan oleh aturan SOLAS (Safety of Life at Sea) dan harus tersedia di setiap kapal niaga.
Fungsi International Shore Connection
Fungsi utama ISC adalah:
- Menghubungkan fire main kapal dengan hydrant darat
- Menyuplai air pemadam dari shore
- Cadangan saat fire pump kapal gagal bekerja
- Membantu pemadaman kebakaran besar di pelabuhan
- Standarisasi internasional, sehingga koneksi dapat digunakan di pelabuhan negara mana pun
Konstruksi ISC
Berdasarkan gambar yang Anda lampirkan, ISC terdiri dari:
1. Flange utama
Berbentuk lingkaran dengan dimensi standar internasional.
Dimensi umum:
- Outside diameter : 178 mm
- Inside diameter : 64 mm
- Bolt circle diameter : 132 mm
- Slot bolt : 4 buah
- Slot width : 19 mm
- Thickness flange : 14.5 mm
Dimensi ini dibuat universal agar cocok dengan sistem hydrant internasional.
2. Slot baut universal
Pada flange terdapat 4 slot baut berbentuk U.
Tujuannya:
- Memudahkan pemasangan cepat
- Cocok untuk berbagai jenis baut hydrant
- Tidak perlu presisi posisi baut
3. Coupling penghubung
Bagian belakang ISC menggunakan coupling yang dapat disambungkan ke:
- Selang pemadam
- Fire main kapal
- Shore hydrant
Prinsip Kerja ISC
Urutan penggunaannya:
- Kapal mengalami kebakaran
- Tekanan fire main kapal tidak tersedia
- Tim darat menyiapkan hose hydrant
- ISC dipasang pada fire main kapal
- Hose hydrant darat dihubungkan ke ISC
- Air dipompa dari darat menuju sistem pemadam kapal
Aliran air:
Shore hydrant → Hose → ISC → Fire main kapal → Hydrant/nozzle kapal
Lokasi Penyimpanan ISC di Kapal
ISC biasanya disimpan:
- Dekat manifold fire main
- Dekat fire station
- Di ruang fire locker
- Area yang mudah dijangkau saat emergency
Biasanya dilengkapi:
- Baut
- Mur
- Gasket
- Kunci pemasangan
Persyaratan SOLAS
Menurut SOLAS Chapter II-2:
- Setiap kapal wajib memiliki minimal 1 ISC
- Harus kompatibel dengan standar internasional
- Harus siap digunakan setiap saat
- Harus lengkap dengan gasket dan baut
Material ISC
Material yang umum digunakan:
- Brass
- Bronze
- Cast steel
- Stainless steel
Syarat material:
- Tahan korosi air laut
- Kuat terhadap tekanan hydrant
- Tidak mudah retak
Pemeriksaan dan Perawatan ISC
Pemeriksaan rutin
Yang diperiksa:
- Kondisi flange
- Retak atau korosi
- Kelengkapan baut dan gasket
- Kondisi coupling
- Kebersihan ulir dan permukaan flange
Perawatan
- Bersihkan setelah digunakan
- Beri grease tipis pada baut
- Simpan di tempat kering
- Cat ulang bila korosi
Permasalahan yang Sering Terjadi
1. Gasket rusak
Akibat:
- Kebocoran saat pemakaian
2. Baut hilang
Akibat:
- ISC tidak dapat dipasang cepat saat emergency
3. Korosi flange
Akibat:
- Sulit sealing
- Kebocoran tekanan
4. Coupling macet
Akibat:
- Sulit dihubungkan ke hose
Pentingnya ISC dalam Keselamatan Kapal
ISC merupakan peralatan kecil tetapi sangat penting karena:
- Menjadi backup terakhir sistem pemadam kapal
- Membantu koordinasi pemadaman dengan petugas darat
- Mengurangi risiko kerusakan besar akibat kebakaran
- Menjadi persyaratan wajib inspeksi PSC dan class
Tanpa ISC, kapal dapat kesulitan menerima bantuan pemadaman dari darat saat kondisi darurat.
- Di pusat propeller (hub).
- Tepat di belakang blade.
- Energi terbuang percuma
- Efisiensi propeller menurun
- Muncul cavitation
- Getaran dan noise meningkat
- Menghilangkan hub vortex. Sirip pada PBCF bekerja untuk memecah pusaran air dan mengarahkan aliran menjadi lebih stabil.
- Meningkatkan efisiensi propeller. Dengan berkurangnya energi yang hilang maka daya dorong meningkat dan konsumsi bahan bakar bisa turun sekitar 3–5%.
- Mengurangi cavitation. Aliran air yang lebih stabil, mengurangi pembentukan gelembung uap dan menghindari kerusakan pada blade.
- Menurunkan getaran dan noise. Aliran lebih smooth, beban pada shaft lebih stabil dan kenyamanan dan umur komponen meningkat.
- Melindungi hub propeller. Sebagai boss cap, mkenutup bagian tengah propeller dan melindungi komponen internal dari kerusakan.
- Meningkatkan efisiensi propeller (mengurangi energi terbuang akibat vortex di hub).
- Mengurangi konsumsi bahan bakar (fuel saving bisa ±3–7% tergantung kondisi).
- Mengurangi turbulensi di belakang propeller.
- Mengurangi getaran (vibration) pada buritan kapal.
- Meningkatkan thrust (daya dorong lebih optimal).
- Mengurangi noise (kebisingan), cocok untuk kapal tertentu (misalnya kapal riset/perikanan).
- Mengurangi risiko kavitasi di area hub.
- Biaya investasi awal lebih mahal.
- Perlu pemasangan yang presisi (tidak bisa asal pasang).
- Tidak semua kapal langsung mendapatkan peningkatan signifikan (tergantung desain hull & propeller).
- Perawatan tambahan (inspeksi fin dan baut pengikat).
- Jika rusak (fin patah/bengkok), bisa mengganggu performa propeller.
- Desain lebih sederhana dan umum digunakan.
- Biaya awal lebih murah.
- Perawatan lebih mudah (tidak ada komponen tambahan seperti fin).
- Tidak perlu modifikasi khusus saat pemasangan.
- Terjadi hub vortex yang menyebabkan kehilangan energi.
- Efisiensi lebih rendah dibandingkan yang menggunakan PBCF.
- Konsumsi bahan bakar cenderung lebih tinggi.
- Turbulensi lebih besar di belakang propeller.
- Potensi getaran dan noise lebih tinggi.
- Thrust tidak seoptimal propeller dengan PBCF.
Penggunaan listrik DC untuk sistem kontrol menjadi pilihan ideal dalam mengendalikan permesinan. Dalam sistem kontrol industri modern, seperti halnya sistem kontrol mesin kapal, proses otomasi di pabrik serta pembangkit listrik menggunakan sinyal 4–20 mA DC menjadi standar yang paling umum digunakan untuk mengirimkan data dari sensor ke sistem kontrol. Standar ini dipakai pada berbagai perangkat seperti pressure transmitter, control temperature, level, hingga flow monitoring system.
Pertanyaannya, mengapa menggunakan arus DC 4–20 mA dan bukan 0–20 mA atau bahkan tegangan seperti 0–10 volt? Berikut penjelasan teknisnya.
1. Lebih tahan terhadap gangguan listrik.
Diatas kapal serta lingkungan industri biasanya penuh dengan gangguan elektromagnetik (electrical noise) yang berasal dari motor listrik, generator, inverter, dan peralatan daya lainnya.
Jika menggunakan sinyal tegangan, gangguan ini dapat dengan mudah mengubah nilai tegangan sehingga pembacaan menjadi tidak akurat.
Sedangkan pada sistem arus (current loop), yang diukur adalah besar arus yang mengalir, bukan tegangannya. Perubahan resistansi kabel atau gangguan listrik biasanya tidak banyak mempengaruhi arus, sehingga sinyal lebih stabil dan akurat.
2. Dapat mendeteksi kerusakan kabel.
Alasan penting mengapa digunakan 4 mA sebagai titik awal, bukan 0 mA, adalah untuk mendeteksi kondisi kegagalan sistem.
Pada sistem 4–20 mA:
4 mA → nilai minimum pengukuran
20 mA → nilai maksimum pengukuran
0 mA → menandakan kabel putus atau perangkat rusak
Jika sistem menggunakan 0–20 mA, maka sistem kontrol akan sulit membedakan apakah:
sensor membaca nilai nol, atau
kabel terputus.
Dengan adanya offset 4 mA, sistem dapat langsung mengetahui jika arus turun ke nol berarti terjadi fault.
3. Dapat memberi daya pada sensor.
Dalam banyak aplikasi, terutama pada transmitter dua kabel (two-wire transmitter), arus 4–20 mA juga berfungsi sebagai sumber daya bagi sensor.
Artinya dalam satu jalur kabel yang sama, arus digunakan untuk menyalakan transmitters sekaligus mengirimkan sinyal pengukuran
Hal ini membuat instalasi menjadi lebih sederhana, hemat kabel, dan lebih andal.
4. Jarak transmisi lebih jauh.
Sinyal arus dapat dikirim melalui kabel yang panjang tanpa mengalami penurunan kualitas sinyal yang signifikan.
Berbeda dengan sinyal tegangan yang mudah mengalami voltage drop ketika jarak kabel semakin jauh.
Karena itu sistem 4–20 mA sangat cocok untuk instalasi industri, termasuk sistem kontrol pabriks, sistem kelistrikan kapal, instalasi oil & gas, sistem pembangkit listrik.
5. Mudah dikonversi menjadi tegangan.
Meskipun menggunakan arus, sistem kontrol dapat dengan mudah mengubah sinyal ini menjadi tegangan menggunakan resistor presisi.
Contohnya:
Jika digunakan resistor 250 ohm:
4 mA × 250 Ω = 1 Volt
20 mA × 250 Ω = 5 Volt
Sehingga sistem kontrol dapat membaca sinyal dalam bentuk 1–5 Volt tanpa kehilangan standar kontrol 4–20 mA.
- Sensor membaca perubahan kecil pada sinyal.
- PLC memproses logika ON/OFF.
- Modul kontrol membutuhkan referensi tegangan tetap.
- Transistor
- IC (Integrated Circuit)
- Mikrokontroler
- PLC
- Modul sensor
0 Volt = OFF24 Volt DC = ON
5V DC12V DC24V DC
- Sensor salah baca.
- PLC error.
- Sistem trip tanpa sebab jelas.
✔ Tegangannya stabil.
✔ Cocok untuk sistem logika elektronik.✔ Lebih aman untuk kontrol tegangan rendah.✔ Minim gangguan.✔ Sesuai dengan karakter komponen elektronik.







































