Just another free Blogger theme

Dalam sistem mekanisme penggerak mesin, hubungan antara cam (nok) dan roller/cam follower merupakan salah satu bagian yang bekerja dengan beban tinggi dan kontak berulang. Gerakan cam yang berputar diteruskan melalui roller untuk menghasilkan gerakan naik-turun atau gerakan mekanis tertentu pada komponen yang digerakkan.

Meskipun konstruksinya relatif sederhana, pasangan cam dan roller bekerja dalam kondisi yang cukup berat: beban kontak tinggi, kecepatan relatif tinggi, gesekan, temperatur, serta tuntutan pelumasan yang kontinu.

Kerusakan pada permukaan cam maupun roller tidak boleh dianggap sebagai keausan biasa. Jika dibiarkan, kerusakan dapat berkembang menjadi scuffing, scoring, pitting, spalling, bahkan menyebabkan roller macet atau pecah.





Pada kasus yang ditunjukkan pada foto diatas, terlihat kerusakan cukup berat pada permukaan roller/cam follower berupa area kasar, terkelupas dan mengalami kerusakan permukaan yang jelas berbeda dengan permukaan normal.

1. Kondisi Kerusakan

Pada komponen yang diperiksa terlihat beberapa kondisi:

  • Permukaan roller normal seharusnya memiliki finishing yang relatif halus dan seragam.
  • Salah satu roller menunjukkan kerusakan lokal pada permukaan kontak.
  • Area kerusakan tampak kasar dan tidak lagi memiliki permukaan machining yang normal.
  • Terlihat indikasi material permukaan mengalami pengelupasan atau penghancuran.
  • Pada bagian lain terlihat adanya goresan/jejak kontak.
  • Kerusakan bersifat lokal, sehingga perlu dicari penyebab mengapa beban atau temperatur terkonsentrasi pada area tersebut.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kontak antara roller dengan cam telah mengalami kondisi kerja yang tidak normal.

Secara visual, kerusakan dapat mengarah pada scuffing/galling yang berkembang menjadi surface fatigue atau spalling. Namun, identifikasi jenis kerusakan secara pasti tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan dimensi, kondisi bearing, hardness/material, pola kontak dan kondisi pelumas.

2. Bagaimana Kerusakan Ini Bisa Terjadi?

Pada kondisi normal, roller berputar mengikuti profil cam. Kontak antara kedua permukaan harus berlangsung dengan distribusi beban yang baik dan didukung oleh lapisan pelumas.

Ketika pelumasan tidak mencukupi, clearance berubah, roller tidak dapat berputar bebas, atau terdapat ketidaksejajaran, maka kondisi kontak berubah.

Area kontak menjadi semakin berat.

Akibatnya dapat terjadi:

beban kontak tinggi → film pelumas gagal → kontak metal-to-metal → temperatur meningkat → permukaan tergores/terkikis → material terkelupas → kerusakan semakin cepat.

Setelah permukaan mulai rusak, partikel logam hasil keausan juga dapat masuk ke dalam sistem pelumasan. Partikel tersebut kemudian berpotensi mempercepat keausan pada komponen lain.

3. Analisis Penyebab

Kerusakan seperti pada foto sebaiknya tidak langsung disimpulkan hanya karena "kurang oli". Ada beberapa kemungkinan yang harus diperiksa secara sistematis.

A. Pelumasan Tidak Mencukupi

Ini merupakan salah satu penyebab utama kerusakan permukaan cam dan roller.

Kemungkinan yang perlu diperiksa:

  • Tekanan atau debit oli pelumas tidak mencukupi.
  • Lubrication passage tersumbat.
  • Lubang oli menuju cam/roller tersumbat.
  • Nozzle atau jet pelumas tidak mengarah dengan benar.
  • Temperatur oli terlalu tinggi sehingga viskositas turun.
  • Grade oli tidak sesuai.
  • Oli mengalami kontaminasi.
  • Interval penggantian oli terlalu panjang.

Ketika oil film tidak mampu memisahkan kedua permukaan, terjadi kontak langsung antarlogam.

Kondisi ini dapat menghasilkan scuffing atau galling.

B. Roller Tidak Berputar Bebas

Roller harus dapat berputar dengan bebas pada pin atau bearing-nya.

Apabila bearing roller mengalami:

  • seizure,
  • kerusakan raceway,
  • kerusakan needle bearing,
  • clearance tidak sesuai,
  • kekurangan pelumasan,

roller dapat kehilangan kemampuan rolling-nya.

Akibatnya, gerakan yang seharusnya berupa rolling berubah menjadi kombinasi rolling dan sliding, atau bahkan terjadi sliding berat.

Inilah kondisi yang sangat berbahaya bagi permukaan cam dan roller.

C. Kerusakan Bearing atau Pin Roller

Pin tempat roller berputar juga harus diperiksa.

Pin yang aus, oval, bengkok atau mengalami kerusakan dapat menyebabkan posisi roller berubah terhadap cam.

Akibatnya beban tidak lagi terdistribusi secara merata.

Kontak dapat terkonsentrasi pada bagian tertentu dari roller sehingga muncul localized wear seperti yang terlihat pada foto.

D. Misalignment

Ketidaksejajaran antara roller dan cam juga harus diperiksa.

Misalignment dapat disebabkan oleh:

  • housing yang berubah posisi,
  • pin roller tidak lurus,
  • bearing mengalami keausan,
  • deformasi komponen,
  • kesalahan pemasangan,
  • keausan pada supporting mechanism.

Misalignment menyebabkan tekanan kontak tidak merata.

Jika salah satu sisi roller menerima beban lebih besar, kerusakan permukaan dapat berkembang jauh lebih cepat.

E. Beban Berlebihan

Cam dan roller dirancang berdasarkan beban tertentu.

Overload dapat meningkatkan contact stress secara signifikan.

Penyebabnya dapat berupa:

  • beban mekanis berlebihan,
  • setting sistem yang tidak sesuai,
  • perubahan kondisi operasi,
  • komponen yang digerakkan mengalami tahanan,
  • valve atau mekanisme terkait mengalami sticking,
  • timing atau adjustment tidak tepat.

Beban yang terlalu besar dapat menyebabkan surface fatigue, kemudian berkembang menjadi pitting dan spalling.

F. Kualitas atau Kondisi Material

Jika komponen pernah mengalami overheating, heat treatment tidak sesuai, atau material mengalami perubahan hardness, ketahanan permukaan terhadap beban kontak dapat menurun.

Oleh karena itu, pada kerusakan berat perlu dipertimbangkan pemeriksaan:

  • hardness,
  • material specification,
  • surface condition,
  • heat treatment,
  • kemungkinan thermal damage.

4. Mengapa Kerusakannya Hanya di Area Tertentu?

Ini merupakan bagian penting dalam troubleshooting.

Jika seluruh permukaan roller aus secara merata, kemungkinan penyebabnya adalah keausan umum akibat umur operasi.

Tetapi jika hanya terdapat satu bidang atau area tertentu yang rusak parah, kita harus mencurigai adanya kondisi abnormal.

Beberapa kemungkinan:

  1. Roller tidak berputar dengan normal.
  2. Ada benda asing atau partikel keras yang masuk ke area kontak.
  3. Terjadi misalignment.
  4. Beban terkonsentrasi pada area tertentu.
  5. Permukaan cam memiliki cacat.
  6. Terjadi loss of lubrication secara lokal.
  7. Roller pernah mengalami seizure.
  8. Terdapat kerusakan pada bearing atau pin.

Dengan kata lain, kerusakan lokal harus dicari penyebab lokalnya, bukan hanya mengganti roller.

5. Pemeriksaan yang Harus Dilakukan

Sebelum memasang roller baru, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalah telah selesai.

Lakukan pemeriksaan berikut.

Pemeriksaan Roller

Periksa:

  • diameter luar,
  • roundness,
  • taper,
  • permukaan kontak,
  • retak,
  • pitting,
  • spalling,
  • scoring,
  • tanda overheating,
  • kebebasan putaran roller.

Jika tersedia, lakukan pemeriksaan hardness dan crack detection sesuai prosedur maker.

Pemeriksaan Bearing

Periksa:

  • kondisi needle bearing/bushing,
  • clearance,
  • keausan,
  • discoloration akibat panas,
  • kerusakan raceway,
  • kondisi cage jika menggunakan roller bearing.

Pastikan roller dapat berputar bebas setelah dirakit.

Pemeriksaan Pin

Ukur:

  • diameter pin,
  • ovality,
  • taper,
  • surface condition,
  • straightness.

Pin yang aus dapat menyebabkan roller baru kembali mengalami kerusakan.

Pemeriksaan Cam

Jangan hanya mengganti roller.

Permukaan cam yang menjadi pasangan kontak juga harus diperiksa.

Perhatikan:

  • scoring,
  • pitting,
  • spalling,
  • crack,
  • perubahan warna akibat panas,
  • keausan profil cam,
  • permukaan yang tidak rata.

Jika cam sudah mengalami kerusakan, roller baru yang dipasang dapat kembali rusak dalam waktu singkat.

Pemeriksaan Sistem Pelumasan

Periksa:

  • tekanan oli,
  • flow/debit,
  • temperatur oli,
  • filter,
  • lubrication passage,
  • nozzle/jet,
  • arah penyemprotan oli,
  • kebersihan jalur oli.

Jika ditemukan partikel logam dalam oli atau filter, sumber partikel harus dicari.


Pesona big dolphin, 









ILR atau Inflatable Liferaft merupakan salah satu peralatan keselamatan jiwa yang sangat penting di atas kapal. Dalam kondisi normal, keberadaannya mungkin terlihat sederhana—sebuah container berbentuk tabung yang tersusun rapi di sepanjang sisi kapal.

ILR diatas kapal. (Foto: Dokumentasi penulis).


Foto di atas memperlihatkan deretan container inflatable liferaft yang ditempatkan di area terbuka kapal. Penempatan seperti ini bukan sekadar persoalan kerapian, tetapi harus mempertimbangkan akses, keamanan, kemampuan untuk dilepaskan, serta ketentuan keselamatan yang berlaku.

Inflatable Liferaft adalah rakit penolong yang dapat mengembang secara otomatis maupun dengan mekanisme yang telah dirancang untuk keadaan darurat.

Berbeda dengan lifeboat yang memiliki struktur kaku dan biasanya dilengkapi mesin, inflatable liferaft pada kondisi tersimpan memiliki bentuk yang sangat ringkas. Liferaft dilipat dan dikemas di dalam sebuah container.

Ketika diperlukan, liferaft akan dikeluarkan dari container dan mengembang sehingga menjadi sebuah rakit yang dapat digunakan oleh sejumlah orang sesuai kapasitas yang ditentukan.

Liferaft merupakan bagian dari life-saving appliances (LSA) yang diatur dalam SOLAS Chapter III dan International Life-Saving Appliance (LSA) Code. IMO menjelaskan bahwa SOLAS Chapter III mengatur berbagai persyaratan peralatan dan pengaturan keselamatan jiwa, termasuk lifeboat, rescue boat, liferaft, dan lifejacket.

Persyaratan teknis untuk container liferaft antara lain mencakup kemampuan menahan kondisi penggunaan di laut dan memiliki buoyancy yang cukup untuk membantu menarik painter serta mengoperasikan mekanisme inflasi apabila kapal tenggelam.

Apa yang Ada di Dalam Liferaft?
Meskipun dari luar hanya terlihat sebuah container, di dalamnya terdapat sebuah sistem keselamatan yang cukup kompleks.
Liferaft dilengkapi dengan berbagai perlengkapan survival yang diperlukan untuk membantu orang yang berada di dalamnya bertahan sampai mendapatkan pertolongan.

Perlengkapan tersebut dapat mencakup antara lain:
  • alat komunikasi dan/atau sarana pemberi tanda sesuai persyaratan;
  • pyrotechnics atau alat sinyal;
  • perlengkapan pertolongan pertama;
  • air minum dan perlengkapan survival;
  • makanan darurat;
  • alat perbaikan;
  • perlengkapan untuk mengambil air;
  • dayung atau perlengkapan penggerak yang dipersyaratkan;
  • lampu;
  • sea anchor;
  • perlengkapan keselamatan lainnya.
  • Isi dan konfigurasi perlengkapan bergantung pada tipe liferaft, kapasitas, jenis kapal, serta persyaratan yang berlaku.

Liferaft yang sudah bertahun-tahun berada di deck tetap membutuhkan pemeriksaan dan servicing sesuai persyaratan.
Yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Kondisi container
Periksa apakah terdapat:
kerusakan;
retak;
deformasi;
korosi pada bagian tertentu;
strap atau securing yang bermasalah;
marking yang tidak terbaca. 

2. Service date

Perhatikan tanggal atau informasi servicing.
Jangan menganggap liferaft aman hanya karena container masih terlihat bagus. 
3. Painter
Pastikan pengaturan painter sesuai dengan desain dan tidak mengalami kondisi yang dapat mengganggu operasinya.
4. Hydrostatic Release Unit
Jika menggunakan HRU, kondisi dan masa berlaku/service information harus diperhatikan.
5. Securing arrangement
Liferaft harus terpasang dengan benar pada tempat penyimpanannya. Securing yang terlalu longgar dapat menyebabkan masalah saat kapal mengalami gerakan berat.