Just another free Blogger theme

Struktur kapal mengalami berbagai jenis tegangan (stresses) akibat gelombang, beban muatan, gaya hidrodinamis, serta gerakan kapal itu sendiri. Tegangan‐tegangan ini memengaruhi kekuatan kapal dan menjadi pertimbangan utama dalam desain serta inspeksi kapal. Jenis tegangan struktur lambung kapal adalah sagging, hogging, pounding, torsion, racking, dan panting.

Berikut penjelasan dan perbedaan sagging, hogging, pounding, torsion, racking, dan panting.


1. Sagging

Sagging terjadi ketika bagian tengah kapal turun (melendut ke bawah) karena menerima beban lebih besar dibandingkan bagian haluan dan buritan.

Penyebab

  • Gelombang besar berada di tengah kapal, sedangkan haluan dan buritan berada di puncak gelombang.

  • Beban muatan terlalu berat di bagian tengah.

Efek

  • Lentur pada girder dan deck.

  • Kemungkinan retak pada pelat dasar jika berulang.

Ciri utama

Tengah kapal melengkung ke bawah (bending downward).


2. Hogging

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Hogging adalah kebalikan dari sagging, di mana tengah kapal terangkat ke atas karena haluan dan buritan mendapatkan gaya angkat lebih besar.

Penyebab

  • Haluan dan buritan berada di puncak gelombang, sementara bagian tengah berada di lembah gelombang.

  • Beban muatan di haluan dan buritan lebih besar dibanding tengah.

Efek

  • Gaya tarik besar pada deck dan gaya tekan pada dasar kapal.

Ciri utama

Tengah kapal melengkung ke atas (bending upward).


3. Pounding

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Pounding adalah benturan keras berulang antara bagian bawah haluan kapal dengan permukaan air ketika kapal menghantam gelombang.

Penyebab

  • Kapal bergerak cepat di laut bergelombang.

  • Bow flare menghantam air saat kapal naik turun (pitching).

Efek

  • Kerusakan struktural pada bagian bawah haluan.

  • Retakan dan deformasi akibat impact load.

Ciri utama

Benturan vertikal antara haluan dan permukaan laut.


4. Torsion

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Torsion adalah tegangan puntir pada kapal karena bagian haluan dan buritan mengalami gerakan berbeda akibat gelombang tidak sejajar dengan sumbu kapal.

Penyebab

  • Gelombang datang dari samping (quartering seas).

  • Kapal mengalami gerakan twist.

Efek

  • Distorsi pada midship.

  • Beban berat pada longitudinal framing dan deck.

Ciri utama

Struktur kapal terpuntir, sisi kiri dan kanan bergerak tidak serempak.


5. Racking

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Racking adalah gaya geser (shear) yang membuat badan kapal seolah miring atau terpuntir ke samping, tetapi dalam bentuk deformasi diagonal pada bagian samping kapal.

Penyebab

  • Gerakan rolling (mengguling) yang kuat akibat gelombang samping.

  • Tekanan lateral besar pada sisi kapal.

Efek

  • Deformasi pada frame samping (side frames).

  • Kelelahan pelat dinding sisi (side shell) dan sekat.

Ciri utama

Rangka samping menerima gaya geser yang membuat bentuknya terdistorsi ke samping.


6. Panting

(Gambar: https://www.instagram.com/marinemachineryhub?igsh=MTN4dXFiMnRoY2trZg==)

Panting adalah gerakan naik turun / berdenyut pada pelat sisi haluan saat menerima tekanan air secara bergantian karena gelombang.

Penyebab

  • Tekanan air yang berfluktuasi besar pada area haluan.

  • Kapal menembus gelombang (bow slamming).

Efek

  • Pelat haluan bisa melengkung.

  • Kelelahan material di area bow.

Ciri utama

Pelat haluan mengalami tekanan berdenyut berulang (in-and-out movement).

Shaft Propeller Grounding System adalah sistem yang dirancang untuk mengalirkan arus listrik dari shaft propeller ke lambung kapal untuk mencegah potensi kerusakan akibat arus galvani atau korosi elektroda. Sistem ini sangat penting bagi kapal yang beroperasi dengan mesin penggerak besar, karena kapal-kapal ini sering beroperasi di lingkungan laut yang memiliki sifat konduktivitas tinggi. Tanpa sistem grounding yang tepat, bisa timbul berbagai masalah yang berpotensi merusak peralatan dan struktur kapal.

Propeller shaft grounding. (Foto: Dokumentasi penulis).

Pada dasarnya, shaft propeller grounding system berfungsi untuk menjaga keseimbangan tegangan listrik yang dihasilkan oleh propeller shaft, yang dapat memengaruhi elemen-elemen logam di kapal. Komponen utama dari sistem ini adalah koneksi antara poros propeller dengan lambung kapal menggunakan kawat konduktor, yang mengalirkan arus listrik yang mungkin terjadi di sepanjang poros. Arus listrik ini bisa berasal dari sumber luar, seperti listrik statis atau arus galvanik, yang bisa merusak bagian-bagian kapal jika tidak ditangani dengan benar.

Tegangan listrik yang muncul dapat menyebabkan korosi elektroda pada berbagai bagian kapal, termasuk sistem propulsi dan bagian bawah lambung kapal yang sering bersentuhan langsung dengan air laut. Proses ini, yang disebut korosi galvanik, terjadi ketika dua logam berbeda terhubung dalam larutan konduktif (seperti air laut), menyebabkan arus listrik mengalir dan menimbulkan kerusakan pada komponen logam.

Alasan Pentingnya Pemasangan Shaft Propeller Grounding System

  1. Mencegah Korosi Galvanik
    Tanpa grounding yang tepat, perbedaan potensial listrik antara logam yang berbeda di kapal dapat menyebabkan arus galvanik yang merusak. Korosi galvanik pada bagian-bagian logam kapal yang terendam di laut dapat mengurangi umur kapal secara signifikan dan memerlukan biaya pemeliharaan yang besar.

  2. Perlindungan pada Sistem Propulsi
    Shaft propeller adalah bagian yang sangat krusial dalam sistem propulsi kapal. Jika sistem ini tidak dilindungi dari potensi arus listrik yang merusak, maka kerusakan pada poros propeller, bilah propeller, dan bahkan komponen lain dari sistem propulsi bisa terjadi. Sistem grounding yang baik akan memastikan bahwa arus listrik berbahaya tidak mengalir melalui bagian-bagian penting ini.

  3. Keamanan Kapal dan Kru
    Selain masalah korosi, grounding yang buruk bisa berisiko meningkatkan bahaya kebakaran atau bahkan risiko sengatan listrik pada kapal. Arus listrik yang tidak terkontrol dapat mengganggu peralatan listrik dan bahkan merusak sistem navigasi kapal, yang berpotensi mengancam keselamatan kru kapal dan navigasi.

  4. Memastikan Kinerja Optimal Kapal
    Dengan grounding yang baik, sistem propulsi dan komponen kelistrikan lainnya akan berfungsi lebih efisien dan tahan lama. Hal ini berkontribusi pada pemeliharaan kapal yang lebih mudah dan biaya operasional yang lebih rendah.

Akibat Jika Shaft Propeller Grounding System Tidak Terpasang

  1. Korosi yang Cepat pada Komponen Logam
    Tanpa sistem grounding, arus galvanik akan mengalir bebas antara berbagai komponen kapal yang terbuat dari logam berbeda. Hal ini menyebabkan korosi yang cepat pada bagian bawah lambung kapal dan propeller shaft. Korosi ini tidak hanya merusak komponen secara fisik, tetapi juga mengurangi kekuatan struktural kapal.

  2. Kerusakan pada Poros dan Propeller
    Tanpa grounding, shaft propeller yang terbuat dari bahan logam yang berbeda bisa terpengaruh oleh arus listrik yang merusak. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan deformasi pada shaft dan kerusakan pada bilah propeller, yang pada akhirnya mengurangi efisiensi dan performa sistem propulsi kapal.

  3. Peningkatan Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan
    Kapal yang tidak dilengkapi dengan shaft propeller grounding system lebih rentan terhadap kerusakan dan korosi. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya pemeliharaan yang signifikan karena harus sering mengganti bagian-bagian yang rusak. Pemeliharaan yang tidak terencana dapat mengganggu jadwal operasional kapal.

  4. Pengaruh Terhadap Sistem Listrik Kapal
    Tanpa grounding, arus listrik yang tidak terkontrol dapat merusak sistem kelistrikan kapal, termasuk alat navigasi dan komunikasi, serta sistem pengendali mesin. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu operasi kapal, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan kapal dan kru.

  5. Peningkatan Risiko Kebakaran
    Adanya tegangan listrik yang tidak terkontrol di dalam kapal juga meningkatkan risiko kebakaran, terutama jika ada komponen yang mengalami korsleting atau terjadi lonjakan arus listrik. Kebakaran di kapal dapat sangat berbahaya karena akses terbatas dan kecepatan penyebaran api yang tinggi.